Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Banyak benarnya (T.383)

Banyak benarnya (T.383)

Ada postingan di salah satu media sosial yang sliweran di beranda, membuat saya tertarik untuk membacanya, kalimat demi kalimat terpahami bahkan mendorong hati untuk membenarkannya dengan merujuk beberapa pengamatan dan pengalaman pribadi sampai akhirnya membuat kesimpulan sendiri yaitu Yes benar adanya.

Leigh Mckeirnon yang telah bekerja enam tahun bekerja di Indonesia telah memberikan penilaian terhadap kinerja orang Indonesia, apa yang disampaikan oleh beliau memang benar adanya. Tidak usah jauh meneropong kinerja orang-orang atas, lingkup saya sendiri ada rapat bulanan di instansi terkait, rapat kepemerintahan, rapat lingkungan, rapat kedinasan, seabrek surat undangan PDF menggantung di HP. Seolah-olah, saya pribadi orang tersibuk di dunia. Tak tanggung-tanggung dalam sehari ada 3-4 rapat yang dihadiri pulangnya bawa kotak nasi memenuhi jok sepeda motor. Hasilnya sedikit terimplementasikan, ujung-ujungnya bagai air tawar tidak ada rasanya.

Kata kuncinya tidak dipegang yaitu follow up, tindak lanjutnya mana? Adakah? Mlempem bagai krupuk terkontaminasi oksigen. Sering kali rapat seolah-olah menjadi keharusan dan kewajiban jika tidak hadir diberi sanksi dengan beberapa kriteria karena tidak hadir, namun ketika seseorang menyepakati dan berhasil mempraktekkan berakhir low reward. Rapat lagi rapat lagi, yang lebih parah lagi ketika rapat menjadi ajang perundungan terhadap kinerja seseorang dihadapan rekan kerja dan membandingkan kinerja seseorang dengan kinerja orang lain tanpa melihat dampak yang dirasakan oleh orang yang dirundungkan tanpa ada solusi yang jelas dari atasan, setidaknya teman sejawat memberikan support kepada orang yang dirundungkan, sering kali solusi di nomor duakan. Yaaa boleh dikatakan debat kusir.

Sadar tidak sadar ketika rapat hanya menunaikan kewajiban hadir tanpa memberikan komentar, lah bagaimana mau memberi komentar jika narasumbernya sudah menjelaskan seterang-terangnya bagai lampu jalan. Seperti yang dijelaskan di atas implementasi jauh dari kata sukses. Bagaimana bisa menjadi tim yang kuat kalau suara dari bawahan diabaikan? Bagaimana bisa menjadi berhasil jika tidak ada tindak lanjut secara berkala terhadap bawahan? Biasanya rapat rutin, kalau saya contohkan sosok pemimpin rapat atau orang nomor satu di instansi kita dengan menggunakan "Saya ingin......." atau " Saya harap anda menerima keputusan ini," Nah kan Mateng jadinya.

Kesimpulannya: ada peribahasa mengatakan Tong kosong nyaring bunyinya, air beriak tanda tak dalam, sedikit bicara banyak bekerja dan masih peribahasa lainnya. Pendek kata rapat sedikit tapi berkualitas, ada tindak lanjut secara berkesinambungan, jangan malu bertanya kepada bawahan tanpa ada emosional, buatlah teamwork, jika tidak berhasil dalam satu proyek carilah kelemahannya dan gunakan metode lainnya. Berikan reward bagi orang yang berhasil melakukan.

===================================================

Garahan, 10 Maret 2025/ Senin, 10 Ramadhan 1446 H, 00.14 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post