Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dulu saat kecil berpuasa (T.377)

Dulu saat kecil berpuasa (T.377)

Agama yang ku peluk bukanlah agama warisan dari orang tua. Agama yang benar-benar bersumber dari hati nurani. Bagaimana mungkin orang tua mewariskan agama kepadaku? sementara bapak tuna netra dan tuna rungu dan ibu buta huruf, mereka hanya mengarahkan dan membimbing untuk sekolah dan mengaji di Mushalla kampung dengan penerang yang sangat minim, semua pembelajaran diserahkan kepada guru dan ustadz/ustadzah.

Ingat pada masa kecil pada saat memasuki bulan Ramadhan, seandainya iman dan Islam tidak terkandung dalam badan maka aku pura-pura puasa di siang hari, boleh jadi di siang hari, aku makan siang bersembunyi ditengah kebun penduduk, akan tetapi tidak saya lakukan karena waktu itu, aku takut dengan ucapan Ustadz kemanapun kamu sembunyi dan berbuat dosa, Allah itu Maha melihat, seketika itu juga rasa takut menghantam hati. Takut akan wajah orang tua yang tulus mengasihi dan menyayangiku.

Bila waktu sahur, Ibu membangunkanku dengan tangannya yang lembut dan perkataan yang nadanya rendah agar sukma yang masih berkeliling di alam sana cepat menyatu dengan raga, kemudian membasuh mukaku dengan segayung air. Saat mata tak mapu terbuka, sang ibu dengan sabar menyuapi dengan sabar agar mulut terbuka untuk memasukkan nasi dingin dengan satu potong goreng tempe hangat ke dalam mulut. Berpikir baginya ketika berpuasa tidak mengeluh ketika siang hari menjelang. Seteguk air dimasukkan ke bibir agar nanti tidak kehausan ketika mentari terik menghunjam badan.

Saat berbuka puasapun, Ibu rela menyuapi segenggam nasi untuk diriku agar tidak kelaparan selama satu hari tidak makan karena berpuasa, sementara ibu belum berbuka dengan nasi hanya segelas air putih di teguknya sebelum aku mengatakan: "Bu, saya sudah kenyang." barulah ibu makan nasi sisa nasi yang tercecer di piring kemudian ditambahkan nasi dari besek (tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu). Tidak sampai disitu, Ibu menyediakan camilan alami sebagai asupan setelah berbuka puasa berupa rebusan ubi, kacang tanah, krupuk, cangkarok (sisa nasi yang dikeringkan kemudian digoreng) sebelum berangkat Tarawih di Mushalla.

Ketika berbuka puasa, Ibu selalu menyediakan es degan, es campur, Bongko (masakan yang terbuat dari tepung padi yang diberi santan dan gula merah) yang dibuat sendiri, kalaupun tidak sempat, Ibu menyuruh kakak untuk beli es campur di mulut gang, kebetulan saudaraku semuanya ada 4 dan aku yang bungsu, beli dua bungkus es campur di makan enam orang, tentunya seru karena banyak saudara. Keseruan masa kecil ketika berpuasa dikampung membawa kisah yang bahagia sekaligus memilukan.

====================================================

Garahan, 03 Maret 2025 / Senin, 03 Ramadhan 1446 H, 04.50 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post