Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Penjaja Kue Bongko di bulan Ramadhan (T.377)

Penjaja Kue Bongko di bulan Ramadhan (T.377)

Perhatikan gambar di atas!

Itulah gambar saya dimasa kecil, seorang anak terlahir dari keluarga yang mampu namun di usia sekolah dasar, perekonomian keluarga menurun drastis karena sang ayah tidak lagi berjualan bakso keliling disebabkan persaingan yang ketat bahkan saling sikut sama sikut sini

Untuk meringankan beban keluarga, saya memberanikan diri berjualan kue bongko yang ada ketika Ramadhan datang menjelang. Kue Bongko yang ada di kampung saya adalah kue yang terbuat dari tepung beras, bersantan, ada topping gula merah, daun pandan, dibungkus oleh daun.pisang kepok dan dikukus rasanya lemak manis. Jam empat sore, saya mengambil dagangan ke rumah tetangga paling banyak 50 bungkus, di jajakan keliling kampung, jika masih ada keliling kampung lagi sampai habis, kalaupun tidak habis, saya kembalikan ke pembuat kue. Jika habis terjual maka saya dapat banyak upah, jika masih tersisa maka upah pun berkurang.

Dari hasil penjualan berupa upah, saya membeli es campur atau takjil lainnya seperti tape, kolang-kaling, krupuk, kripik atau makanan lainnya untuk menu berbuka puasa bersama kakak-kakak dan orang tua. Selebihnya upah, saya masukkan. Ke celengan yaitu berupa bambu berdiri dirumah sebagai penopang dinding anyaman bambu. Jika lebaran kurang dua hari, uang celengan diambil dengan sebilah gergaji.

Tidak hanya Kue Bongko yang saya jual ketika bulan Ramadhan, Patulo kuah sering menjadi menu spesial bagi sebagian orang kampung, mereka menunggu kedatangan saya ketika menjajakan Patulo, terbungkus dengan plastik berisi dua Patulo dan kuah santan siap saji. Selagi saya bisa membantu orang tua dan halal untuk dikerjakan pastilah akan membawa keberkahan.

Mungkin anak generasi Z sekarang ini jarang ditemui kemandirian seorang anak, menghidupi dirinya sendiri tanpa harus meminta kepada orang tua, bisa dikatakan perbandingan seribu satu karena taraf ekonomi dijaman sekarang sudah mapan dan serba ada. Kalaupun ada anak yang masih menjajakan dagangan itupun karena terpaksa karena banyak hal misalnya anak yatim piatu, orang tuanya yang tidak bisa bekerja, korban perceraian pendek kata garis kemiskinan menjerat leher mereka. Sebisanya mereka menjerit dalam hati dan mencari cara demi sesuap nasi.

Bagi generasi X seusia saya, bukan hal baru menjajakan dagangan melewati perkampungan demi meringankan beban orang tua sementara anak yang berada bermain bersama dengan usaha orang tua yang lancar, perekonomian yang mapan Kemandirian yang terpupuk sejak kecil akan mempunyai dampak yang positif terhadap perkembangan jiwa saya, tidak mengenal putus asa, sabar menghadapi cobaan memungkinkan untuk selalu berusaha menjauhi garis kemiskinan.

Ah sudahlah kawan dan saudara-saudara, inilah pengalaman pribadi saya dimasa kecil dahulu, semoga menjadi inspirasi bagi anak saya kedepan.

====================================================

Garahan, 04 Maret 2025/ Selasa, 04 Ramadhan 1446 H, 00.42 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post