Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 4 Ketika Hujan Turun (T.419a)

Bab 4 Ketika Hujan Turun (T.419a)

Hari itu hujan turun lebih awal dari biasanya. Bulir-bulir air mengetuk atap seng rumah Afkar dengan irama yang ganjil, seakan ingin menyampaikan sesuatu. Di bawah langit yang kelabu, Afkar duduk sendiri di emper rumah, memeluk lutut sambil memandangi jalan becek yang biasa dilewati Aisyah setiap sore.

Tapi kali ini, ia tahu, Aisyah tidak akan lewat.

Hari ini adalah hari lamaran dari keluarga kiai kota itu. Afkar mendengarnya dari ibu yang mendapat cerita saat belanja sayur pagi tadi. Tak ada kabar resmi, tapi seluruh kampung sudah membicaAfkarnnya.

“Katanya keluarga calon suaminya bawa cincin dari Yaman,” ujar ibunya dengan suara pelan, seolah takut melukai anaknya sendiri.

Afkar hanya mengangguk. Ia tak bertanya, tak menjawab. Hatinya seperti digerus diam-diam.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat dari arah gang sempit samping rumah. Afkar menoleh, dan sosok yang datang membuatnya terpaku.

Aisyah.

Ia berdiri di bawah payung biru, wajahnya pucat tapi matanya bulat menatap Afkar. Tanpa suara, ia melangkah mendekat, lalu berhenti di tepi halaman.

“Aku minta maaf…,” katanya pelan, nyaris tak terdengar di tengah suara hujan.

“Aku tahu ini salah. Tapi aku hanya ingin melihatmu… sebelum semuanya berubah.”

Afkar berdiri, tapi tak mendekat. Ia tahu batasnya.

“Tak ada yang salah,” bisiknya:

“aku hanya berharap kau bahagia.”

Aisyah tersenyum getir:

“Apa kau pernah berhenti mendoakan?”

Afkar menggeleng:

“Doa tidak butuh alasan untuk terus hidup. Bahkan ketika harapan sudah tiada.”

Hujan masih turun, tapi mereka tak bergerak. Dua jiwa yang dipisahkan garis, berdiri di bawah langit yang sama, namun tak pernah benar-benar bisa bersatu.

“Selamat tinggal, Afkar,” kata Aisyah akhirnya.

“Selamat tinggal, Aisyah.”

Dan saat langkah Aisyah menjauh, Afkar menatap langit. Ia tahu, langit belum mengizinkan. Tapi mungkin… kelak, di kehidupan lain, saat garis-garis ini tak lagi mengikat, mereka akan bertemu tanpa harus mengucap perpisahan.

===================================================

Garahan, 18 April 2025 / Jum'at, 19 Syawal 1446 H, 12.01 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post