Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 5 Bayang di Balik Pintu (T.420)

Bab 5 Bayang di Balik Pintu (T.420)

Hujan turun sejak pagi. Udara dingin menyelimuti kampung kecil itu, membuat suara ayam pun terdengar enggan. Afkar duduk di depan tungku dapur, membantu ibunya membelah kayu. Tangannya cekatan, tapi pikirannya melayang jauh ke sore itu, ketika Ustaz Salman datang ke rumah dan menyiratkan bahwa masih ada harapan.

Sejak pertemuan itu, hati Afkar tak tenang, tapi juga tidak sepenuhnya gelisah. Ada sesuatu yang berubah seperti benih yang baru saja disentuh hujan pertama. Ia tak tahu apa yang akan tumbuh, tapi ia tahu, doanya tak sia-sia.

Sore itu, saat hujan mulai mereda, Afkar memberanikan diri ke masjid lebih awal. Biasanya ia datang menjelang magrib, tapi hari ini ia ingin membantu menyalakan lampu dan membersihkan sajadah. Tak disangka, Aisyah datang juga lebih awal. Ia membawa setumpuk mushaf baru untuk disusun di rak.

Mereka saling pandang sejenak. Tak ada kata, hanya senyum tipis dari Aisyah dan anggukan canggung dari Afkar. Tapi pertemuan singkat itu membuat dada Afkar sesak oleh harap dan debar yang tak tertata.

Setelah salat magrib, Ustaz Salman menghampiri Afkar yang sedang menyapu lantai belakang masjid.

"Afkar, ikut saya sebentar," katanya tenang.

Afkar mengikuti beliau ke ruang kecil di sisi barat masjid. Ruangan itu biasanya dipakai untuk menyimpan kitab atau kadang jadi tempat mengaji khusus santri dewasa.

"Saya sudah bicara dengan Aisyah," kata Ustaz Salman tanpa basa-basi. "Dan dia tidak menolak untuk mengenalmu lebih jauh."

Jantung Afkar berdegup tak karuan.

"Tapi bukan berarti semuanya akan mudah. Kau tahu tantangan kita bukan cuma syariat, tapi juga adat, pandangan orang, dan martabat keluarga. Aku ingin kau berpikir matang. Jangan terburu-buru. Jika kau benar-benar serius, datanglah bersama ayahmu. Tidak untuk melamar, tapi untuk bersilaturahmi."

Afkar menunduk, menahan rasa yang seperti hendak meledak di dadanya: "InsyaAllah, Pak Ustaz. Saya akan bicara dengan ayah."

Malam itu, Afkar tak bisa tidur. Di kamarnya yang sederhana, ia duduk menatap atap, membayangkan kemungkinan yang dulu bahkan tak berani ia pikirkan. Ia mengambil surat yang dulu pernah ia tulis, surat yang ia tujukan untuk Aisyah namun tak pernah disampaikan. Kali ini, ia membacanya ulang… lalu melipatnya sekali lagi, dan menyelipkannya dalam saku kemejanya.

Keesokan harinya, Afkar mengajak ayahnya duduk di bale bambu depan rumah. Dengan suara lirih, ia menceritakan segalanya. Tentang Aisyah, tentang Ustaz Salman, dan tentang harapan kecil yang mulai tumbuh itu.

Ayahnya terdiam lama. Lalu menatap Afkar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kalau memang kau yakin, Nak, kita datang. Bukan untuk menuntut, tapi untuk menghormati. Jika Allah ridha, tak ada yang bisa menghalangi. Tapi jika tidak… kita harus ikhlas."

Afkar mengangguk. Dadanya penuh haru. Untuk pertama kalinya, langit seperti membuka celah kecil, menyelipkan cahaya di sela mendung yang selama ini ia kira abadi.

 ====================================================

Garahan, 19 April 2025 / Sabtu, 20 Syawal 1446 H, 00.00 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post