Penemu Islam yang terhapus dari Sejarah Dunia. Parts 23 (T,413)
Wallada bint al-Mustakfi: Putri Penyair yang Menantang Zaman
Indonesia mempunyai Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita, Karya: Surat-surat yang dikumpulkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Peranannya: Tokoh emansipasi wanita, Mengkritik ketidakadilan terhadap perempuan Jawa dan Mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi. ada juga Dewi sartika, Asal: Bandung, Jawa Barat. Karya: Tidak menulis buku, tapi aktif mendidik perempuan. Peranannya: Mendirikan Sekolah Istri tahun 1904 (cikal bakal sekolah perempuan di Hindia Belanda) dan Mengembangkan kurikulum berbasis kebutuhan perempuan. Rohana Kudus (1884-1972) berasal dari Sumatra Barat. Karya: Menulis di surat kabar dan mendirikan Soenting Melajoe, koran khusus perempuan. Peranannya: Jurnalis perempuan pertama di Indonesia dan mendirikan sekolah keterampilan untuk perempuan. Karya-karyanya membuka wawasan perempuan Minangkabau akan dunia luar dan pentingnya pendidikan.
Di dalam dunia Islam, ada seorang perempuan Islam yang sangat mahir dalam bidang sastra khususnya menulis puisi, Dialah Wallada binti Al-Mustakfi. Salah satu puisinya yang terkenal adalah puisi tentang kisah cintanya dengan Ibnu Zaydun kekasihnya yang sangat dicintainya, namun berkhianat:
"Jika kau pernah bersumpah untuk mencintaiku setiaMaka kini aku tahu, itu hanyalah kataKau tinggalkan aku demi yang hinaPadahal aku wanita paling mulia
Kau tukar cintaku yang tulus dan dalam
Dengan janji palsu yang mudah kau telan
Kini cintamu bukan lagi kenangan
Tapi luka yang hidup dalam ingatan."
Mari kita bahas tentang Wallada binti Al-Mustakfi. Pada abad ke-11, di kota Córdoba yang megah, lahirlah seorang perempuan luar biasa bernama Wallada bint al-Mustakfi. Sebagai putri dari Khalifah Muhammad III, Wallada tumbuh di lingkungan istana yang penuh dengan kemewahan dan intrik politik. Namun, alih-alih mengikuti jejak perempuan bangsawan lainnya yang hidup dalam bayang-bayang, Wallada memilih jalan yang berbeda: menjadi penyair dan simbol kebebasan perempuan di dunia Islam.
Kehidupan Awal dan Latar Belakang
Wallada dilahirkan sekitar tahun 994 atau 1001 M di Córdoba, ibu kota Kekhalifahan Umayyah di Andalusia. Ayahnya, Muhammad III, adalah khalifah yang berkuasa singkat dan penuh kontroversi. Setelah kematian ayahnya, Wallada mewarisi kekayaan yang memungkinkannya untuk hidup mandiri, tanpa bergantung pada laki-laki atau keluarga kerajaan. Ia mendirikan sebuah majelis sastra di rumahnya, tempat berkumpulnya para penyair, cendekiawan, dan pemikir dari berbagai latar belakang.
Penyair yang Berani dan InovatifWallada dikenal karena puisinya yang penuh gairah, kecerdasan, dan keberanian. Ia menulis tentang cinta, kebebasan, dan kritik sosial dengan gaya yang belum pernah dilihat sebelumnya di dunia sastra Arab. Salah satu puisinya yang terkenal berbunyi:
"Aku, demi Allah, layak untuk kemuliaan,Dan aku berjalan dengan bangga di antara para bangsawan."
Puisi ini bahkan ia bordir dengan benang emas di bagian bawah jubahnya, sebuah pernyataan yang berani tentang identitas dan kebanggaannya sebagai perempuan.
Hubungan dengan Ibn Zaydun
Salah satu aspek yang paling terkenal dari kehidupan Wallada adalah hubungannya dengan penyair terkenal Ibn Zaydun. Kisah cinta mereka penuh dengan gairah, kecemburuan, dan pengkhianatan. Banyak puisi Wallada yang ditujukan untuk Ibn Zaydun, mencerminkan perasaan cinta dan sakit hati yang mendalam. Namun, hubungan mereka berakhir dengan pahit, dan Wallada tidak ragu untuk mengekspresikan kekecewaannya melalui puisi-puisinya.
Warisan dan PengaruhMeskipun hanya sembilan puisinya yang bertahan hingga hari ini, pengaruh Wallada dalam dunia sastra dan budaya sangat besar. Ia menjadi simbol perempuan yang mandiri, berani, dan cerdas dalam masyarakat yang didominasi oleh laki-laki. Majelis sastranya menjadi tempat berkembangnya pemikiran dan kreativitas, serta memberikan ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia intelektual.
Akhir kata, Perempuan tidak selamanya berprofesi sebagai Ibu rumah tangga abadi, banyak hal yang perlu di kerjakan dan di usahakan untuk meraih kesuksesan bahkan bisa bernilai ibadah, salah satu yang dapat dikerjakan adalah membuat buku untuk mengukir sejarah dalam lingkungan keluarga. Tidak harus terkenal seperti Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus dan Wallada binti Al-Mustakfi. Menjadi Kartini dalam keluarga saja dan Kartini jaman now sudah bersyukur dengan karya-karya kecil yang dapat ditorehkan dalam sebuah buku untuk dijadikan sejarah perjalanan keluarga yang kita cintai. Tetap semangat berliterasi wahai para Kartini keluarga!
======================================================
Garahan, 13 April 2025/ Ahad, 14 Syawal 1446 H, 00.19 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
