Tidak jadi terbang ke Australia (T.431a)
Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di kota, Tito bingung apa yang harus dilakukan setelah lulus, Ia menyadari bahwa nilai ijasah yang digenggamnya tidak akan sepenuhnya menjadi acuan untuk melamar pekerjaan kantoran atu perusahaan yang ada di kota, Skill yang dibutuhkan dan pengalaman kerja menjadi pertimbangan utamanya.
Tidak diragukan lagi selama sekolah di kota bermodalkan nekat, ia bersungguh-sungguh belajar agar tidak mengecewakan orang tua dan saudara-saudaranya walaupun hanya doa yang mereka persembahkan untuk Tito. Di kelas satu, Ia masuk sepuluh besar sebagai siswa berprestasi. Di kelas dua, Ia mulai bergeliat dengan prestasinya sebagai Juara kelas terutama Bahasa Inggris selalu berada di puncak hingga berlanjut ke kelas tiga dan berakhir sebagai Juara ketiga perolehan nilai Ijazah di MAN bahkan menjadi The best Ten se-MAN Kabupaten.
Suatu hari, ada satu surat melalui kurir pos Indonesia, sebuah amplop coklat bertuliskan namanya dari satu Kantor Asuransi di kota. keesokan harinya, Tito berangkat ke kota mencari alamat Kantor Asuransi yang tertera di amplop tersebut. Dengan penuh harapan, Ia membawa map yang berisikan ijasah dan syarat-syarat lainnya yang dibutuhkan, akhirnya interview dimulai. Beberapa menit kemudian, wajah Tito ditundukkan ke bawah karena apa yang ada dipikirannya tidak sesuai dengan ekspektasi, Ia diterima di Asuransi tersebut, namun bukan karakternya untuk bekerja di kantor Asuransi tersebut akhirnya menolak dengan halus.
Sambil lalu menanti kepastian mau bekerja di mana, Tito bekerja sebagai pembuat krupuk di kampungnya untuk mencukupi kebutuhan pribadinya. Ia berpikir keras untuk bekerja lebih dari apa yang ia kerjalan hari ini, mau ke Bali tidak mempunyai keahlian sebagai tukang bangunan, mau bekerja di pariwisata Bali belum mempunyai modal D2 pariwisata dan perhotelan walau modal bahasa inggrisnya ada digenggamannya. Mau kuliah pariwisata dan perhotelan di kota tidak mempunyai modal karena orang tua sudah collaps. Apalagi kuliah S1 pendidikan juga tidak memungkinkan terkendala keuangan kecuali ikut Supersemar yaitu beasiswa kuliah pada jaman Presiden Suharto.
Pagi hari yang cerah, ketika Tito mau berangkat bekerja, ada tamu datang kerumahnya dengan wajah cerah ceria menyapa dengan salam kepada Tito. Tanpa basa-basi sang tamu yang ternyata bibinya itu mengajak Tito untuk bekerja di Australia. “Wow” dan “Hah” dua kata yang ada di otak Tito dan tidak percaya dengan penawaran yang ia tawarkan. Negeri Kangguru yang ia impi-impikan selama ini, benarkah apa yang ia dengar dari bibinya? Di dalam kepalanya hanya ada satu yaitu bekerja memakai jas dan bayaran yang lumayan untuk masa depannya. Sang Bibi melanjutkan pembicaraannya bahwasanya Tito bekerja sebagai salesman Mobil di showroom yang bertempat di Sydney. Pengadaan Passport, tiket pesawat dan akomodasi lainnya, segala kebutuhan selama di Australia menjadi tanggung jawab saudara bibi yang ada di Sydney. Alhamdulillah, harapan masa depan terpampang nyata di depannya. Bibi mengajak Tito karena berdasarkan hasil Ijasah terutama dalam bahasa Inggrisnya di atas rata-rata. Maka dari itulah sang bibi penuh harapan agar Tito bisa bekerja di Australia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Suatu malam ketika malam temaram disinari bulan separoh, Tito duduk bersama Ibunya di ruang tamu yang sangat sederhana, Ia mengungkapkan tentang keinginannya untuk bekerja di Australia menjadi salesman mobil, Ibunya menarik napas panjang serasa ada keberatan hati untuk melepas Tito ke Negeri Kangguru, Ibunya dengan air mata menetes di pipinya mengatakan tidak merestui kepergiannya dan ibunya mengatakan cukuplah bekerja di desa sendiri agar ia bisa melihat Tito bahagia di desanya sendiri.
Berat hati dan kecewa yang ada di dalam hatinya, mengubur dalam-dalam keinginannya untuk membahagiakan kedua orang tuanya, Biarlah Tuhan menskenario perjalanan hidup Tito.
=================================================================
Garahan, 30 April 2025 / Rabu, 01 Dzuqo'dah 1446 H, 10.11 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
