Menabur Kesabaran, Menuai Keikhlasan bagi Guru Honorer (T.459b)
Di suatu sore yang teduh, Pak Hamid, seorang guru honorer bersertifikasi yang telah mengabdi lebih dari belasan tahun, datang bertamu ke rumah sahabatnya, Pak Tito. Dengan wajah yang muram, ia mencurahkan kegundahan hatinya.
“Mas Tito,” katanya pelan, “Saya sudah mengajar sekian lama, lulus sertifikasi, bahkan ikut pelatihan, tapi sampai sekarang belum juga diangkat menjadi ASN, baik PPPK apalagi PNS. Sedangkan teman-teman saya yang sama-sama guru, bahkan ada yang baru mengajar beberapa tahun, kini sudah ASN dan mendapatkan penghasilan penuh tiap bulan. Saya masih harus menunggu pencairan, kadang lambat, kadang tidak penuh. Rasanya ingin menyerah.”
Pak Tito, seorang guru yang juga pernah melewati masa-masa sulit sebagai tenaga honorer, tersenyum hangat. Dengan sabar, ia menjawab, “Pak Hamid, izinkan saya menjawab sebagai sahabat dan sebagai sesama Muslim. Apa yang Panjenengan rasakan adalah manusiawi. Siapa yang tidak ingin penghasilan yang layak, kehidupan yang tenang, dan penghargaan atas jerih payah bertahun-tahun? Tapi, mari kita lihat ini dari kacamata Islam.”
1. Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu makhluk pun yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Pak Tito menjelaskan bahwa rezeki bukan hanya dalam bentuk uang atau jabatan. Bisa jadi, rezeki Pak Hamid selama ini berupa anak-anak yang cerdas, murid-murid yang mencintai, atau bahkan kesehatan yang baik. Bila rezeki dalam bentuk gaji penuh belum datang, bukan berarti Allah lalai, melainkan karena Allah tahu waktu terbaik untuk memberikannya.
2. Kesabaran Sebagai Pintu Kemuliaan
“Pak Hamid,” lanjut Pak Tito, “Rasulullah SAW bersabda:
‘Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika dia mendapat nikmat, dia bersyukur, itu baik baginya. Jika dia ditimpa musibah, dia bersabar, itu pun baik baginya.’ (HR. Muslim)
Bisa jadi, sabar Panjenengan saat ini adalah pintu kemuliaan di akhirat. Di sisi lain, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar. Bukankah Nabi Ayyub diuji dengan penyakit bertahun-tahun tapi tetap sabar? Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan hati yang percaya bahwa janji Allah itu pasti.”
3. Ikhtiar dan Tawakal Harus Berjalan Bersama
Pak Tito menyarankan agar Pak Hamid tetap melanjutkan ikhtiar, seperti mengikuti seleksi PPPK atau PNS, mengurus berkas, serta memperkuat kompetensi. Namun, beliau menekankan agar setelah semua usaha dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah.
“Apabila engkau telah bertekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan berserah setelah berusaha sepenuh hati.
4. Mengajar Adalah Ibadah, Bukan Sekadar Profesi
“Pak Hamid,” ucap Pak Tito dengan mata berbinar, “Mengajar bukan hanya pekerjaan, tapi ladang pahala. Rasulullah SAW bersabda:
‘Sebaik-baik kalian adalah yang mengajarkan ilmu.’ (HR. Bukhari)
Setiap huruf yang kita ajarkan, setiap anak yang kita bimbing, akan menjadi saksi kebaikan kita di akhirat. Bahkan jika tidak menjadi ASN, jika niat kita tulus karena Allah, insyaAllah amal kita tetap dicatat dan dibalas tanpa batas.”
5. Doa Tidak Pernah Sia-sia
Terakhir, Pak Tito menasihati sahabatnya untuk memperbanyak doa, khususnya di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam atau setelah salat. Tidak ada doa yang sia-sia. Bisa jadi, Allah mengabulkannya dengan bentuk yang berbeda, waktu yang berbeda, atau bahkan menghindarkan kita dari keburukan yang lebih besar.
Penutup
Kisah Pak Hamid dan Pak Tito adalah potret nyata dari ribuan guru di negeri ini yang setia mengabdi di tengah ketidakpastian. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya dari pengakuan manusia atau gaji yang pasti, melainkan dari hati yang yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang ikhlas. Maka teruslah mengajar, berdoa, dan berjuang, karena dalam setiap peluh dan sabar, ada pahala yang menanti di sisi Allah.
=================================================================
Garahan, 27 Mei 2025 / Selasa Wage, 29 Dzulqo'dah 1446 H, 202.8 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
