Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mendahulukan Gosip daripada Mengajar (T.459)

Mendahulukan Gosip daripada Mengajar (T.459)

Pendidikan adalah pondasi utama dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas dan berkarakter. Guru memegang peran penting dalam proses ini. Namun, sangat disayangkan jika seorang guru justru lebih mendahulukan gosip daripada melaksanakan tugas utamanya: mengajar di kelas.

Fenomena ini masih terjadi di sejumlah sekolah. Di ruang guru, waktu yang seharusnya digunakan untuk menyiapkan materi, menyusun strategi pembelajaran, atau merefleksi proses belajar, malah dihabiskan untuk membicarakan hal-hal yang tidak relevan mulai dari membahas kehidupan pribadi sesama guru, sampai menggosipkan orang tua murid, bahkan murid itu sendiri. Ini bukan hanya tidak profesional, tapi juga merusak etika dan martabat seorang pendidik.

Dampak Langsung pada Proses Belajar

Ketika seorang guru lebih fokus pada gosip, maka perhatian terhadap kualitas pembelajaran menurun. Kelas yang harusnya dimulai tepat waktu jadi tertunda. Guru yang mestinya masuk kelas malah sibuk berbicara tentang kabar burung yang belum tentu benar. Akibatnya, siswa menunggu tanpa kepastian, waktu belajar terbuang, dan pembelajaran menjadi tidak maksimal.

Siswa bisa merasakan ketidakhadiran guru secara emosional maupun intelektual. Mereka melihat bahwa guru mereka tidak bersemangat, asal mengajar, dan tidak memedulikan perkembangan mereka. Lama-lama, hal ini akan menurunkan motivasi belajar siswa, memperlemah disiplin, dan merusak iklim belajar di sekolah.

Teladan yang Salah

Guru adalah teladan bagi siswa. Jika guru dengan mudah membicarakan orang lain secara negatif di hadapan murid atau rekan sejawat, maka siswa pun akan meniru perilaku tersebut. Budaya saling menghormati dan menjaga lisan yang seharusnya ditanamkan sejak dini, berubah menjadi budaya saling mencela, menyebar kabar palsu, dan tidak bisa menjaga rahasia.

Di mata masyarakat, guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi figur publik yang dilihat dan dicontoh. Jika kebiasaan bergosip lebih menonjol dari prestasi mengajarnya, maka citra profesi guru pun ikut tercoreng.

Membangun Kesadaran Profesional

Sudah saatnya para guru merenungkan kembali komitmen mereka terhadap profesi ini. Mengajar bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian dan tanggung jawab moral. Waktu di sekolah harus dimanfaatkan untuk hal-hal produktif, seperti diskusi pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi mengajar, dan membangun hubungan baik dengan siswa dan orang tua murid.

Gosip tidak akan meningkatkan kualitas pendidikan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi positif antar guru, saling mendukung, dan membangun lingkungan sekolah yang sehat secara sosial dan profesional.

Penutup

Gosip mungkin terasa ringan dan menyenangkan sesaat, namun dampaknya bisa sangat merugikan dalam jangka panjang baik bagi siswa, rekan kerja, maupun diri sendiri. Guru yang bijak tahu kapan harus berbicara, apa yang perlu dibicarakan, dan kapan harus fokus menjalankan tugasnya.

Mari kembali pada niat awal: menjadi pendidik sejati, bukan sekadar penyampai materi. Jika semangat mengajar lebih besar dari keinginan untuk bergosip, maka masa depan pendidikan akan tetap terjaga.

Garahan, 27 Mei 2025 / Selasa Wage, 29 Dzulqo’dah 1446 H, 10.55 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post