Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menjadi Guru Sejati di Tengah Ragam Karakter Rekan Sejawat (T.437a)

Menjadi Guru Sejati di Tengah Ragam Karakter Rekan Sejawat (T.437a)

Di lingkungan sekolah, keberagaman karakter guru adalah sebuah keniscayaan. Setiap guru membawa latar belakang, gaya bekerja, dan kebiasaan masing-masing yang membentuk dinamika tersendiri di ruang guru. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa beberapa sikap dan kebiasaan tertentu dari rekan sejawat kadang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan memancing emosi.

Ada guru yang sering datang terlambat, dengan alasan yang berulang kali sama. Ada pula yang terlalu sering mengajukan izin, seolah tanggung jawabnya bisa diwakilkan begitu saja. Di sisi lain, ada tipe guru yang cenderung urakan di kantor: gaduh, bersenda gurau berlebihan, bahkan kurang menjaga profesionalisme di depan siswa. Tak sedikit pula yang merasa paling pintar karena memiliki gelar akademik lebih tinggi, atau merasa paling senior sehingga menganggap pendapatnyalah yang paling benar.

Yang paling mengusik hati saya adalah mereka yang menjaga citra (jaga image) berlebihan. Di hadapan kepala sekolah atau pengawas, mereka tampil begitu sempurna. Namun, ketika tidak ada pengawasan, sikapnya berbeda jauh: tidak tepat waktu, abai terhadap kewajiban, dan kurang berempati kepada rekan yang lain. Hal-hal semacam ini membuat saya introspeksi, mempertanyakan kembali makna menjadi seorang guru sejati. Namun tak jarang pula, saya merasa kesal dan lelah menghadapi situasi ini.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini?

Pertama, penting untuk menanamkan sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan. Kita tidak bisa mengubah karakter orang lain secara langsung, namun kita bisa memilih untuk tidak larut dalam energi negatif yang mereka ciptakan. Fokus pada tanggung jawab dan profesionalisme diri sendiri adalah kunci utama.

Kedua, introspeksi diri adalah langkah yang bijak. Ketika kita merasa terganggu oleh perilaku orang lain, jangan-jangan kita pun memiliki kekurangan yang tidak disadari. Guru sejati adalah mereka yang terus belajar, bukan hanya dalam hal akademis, tetapi juga dalam hal memperbaiki diri dan menjaga etika.

Ketiga, komunikasi terbuka dan sehat sangat penting. Jika ada rekan kerja yang benar-benar mengganggu proses kerja atau kolaborasi, tidak ada salahnya untuk berbicara langsung secara baik-baik. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mencari solusi bersama demi kebaikan lingkungan sekolah.

Keempat, jadikan keteladanan sebagai senjata utama. Guru sejati bukan hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Disiplin, tanggung jawab, dan kesopanan akan memancar dan secara perlahan memengaruhi budaya kerja rekan-rekan lain.

Menjadi guru sejati bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan dan ketulusan dalam menjalani profesi. Di tengah warna-warni karakter rekan sejawat, kita bisa memilih untuk tetap berjalan lurus, menjaga integritas, dan menjadi teladan—meski tanpa sorotan.

Akhirnya, saya belajar bahwa ketidaksempurnaan orang lain bukan alasan untuk berhenti menjadi baik. Justru di situlah letak ujian dan sekaligus pembelajaran berharga dalam perjalanan panjang menjadi pendidik sejati.

==================================================================

Garahan, 06 Mei 2025 / Selasa, 08 Dzulqo'dah 1446 H, 10.58 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post