Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Selendang merah sang Nenek (445)

Selendang merah sang Nenek (445)

Bab 4 – Panggung yang Tertunda

Hari-hari Zahira kini dipenuhi latihan. Ia bangun lebih awal dari biasanya, membantu nenek Fransiska di dapur, lalu berlatih gerakan dasar hingga senja datang. Sekali-sekali ia menari di depan cermin kamar, mencoba menghafal setiap gerakan Tari Pinus Mendayu yang diajarkan nenek Fransiska. Tapi di balik semangatnya, ada harapan yang ia simpan diam-diam: tampil di panggung seperti nenek Fransiska dulu.

Pada suatu sore, ketika Zahira sedang menyapu halaman, datanglah Bu Cicik guru seni budaya dari sekolah Zahira. Wajahnya cerah membawa kabar yang mengejutkan.

“Zahira,” katanya penuh semangat,

“bulan depan akan ada Festival Seni Daerah tingkat kecamatan. Madrasah kita diminta mengirimkan perwakilan tari tradisional. Dan… kamu yang akan tampil.”

Zahira terkejut. Tangannya berhenti menyapu.

“Saya, Bu? Benarkah?”

“Ya. Kami mendengar kamu belajar tari dari nenek Fransiskamu. Kepala Madrasah setuju kamu mewakili sekolah. Ini kesempatan langka.”

Berita itu tersebar dengan cepat. Teman-teman Zahira ramai membicarakan penampilannya yang akan datang. Sebagian besar mendukung, namun beberapa justru meragukannya.

“Apa Zahira bisa?” bisik salah satu murid.

“Dia bukan penari profesional.”

“Apa nenek Fransiskanya bukan cuma penari kampung?” celetuk yang lain.

Zahira mendengarnya, dan meskipun ia tersenyum di luar, hatinya mulai diliputi keraguan. Malam itu, ia duduk di beranda rumah bersama nenek Fransiska, menatap bulan yang menggantung di langit.

“Nenek Fransiska,” katanya pelan. “Apa aku bisa menari di depan banyak orang? Mereka bilang aku belum siap.”

Nenek Fransiska menatap cucunya dengan mata teduh.

“Dulu, saat nenek Fransiska pertama kali naik panggung, nenek Fransiska juga gemetar. Tapi nenek Fransiska percaya pada irama hati sendiri. Kalau kamu menari dengan hati, penonton akan melihat kejujuran itu.”

“Tapi... bagaimana kalau aku lupa gerakan?”

“Kalau kamu lupa gerakan,” jawab nenek Fransiska sambil tersenyum,

“ikuti suara selendangmu. Biarkan dia membimbingmu.”

Hari-hari berikutnya, Zahira semakin serius berlatih. Ia menari di depan guru-guru, kepala Madrasah, dan bahkan kepala desa yang datang khusus untuk memberi dukungan. Namun satu hal yang belum diputuskan: apakah ia akan memakai selendang merah nenek Fransiska saat tampil?

Nenek Fransiska mengeluarkan selendang itu pada malam latihan terakhir. Warnanya masih merah terang, dengan sulaman benang emas yang mulai pudar di beberapa sisi.

“Ini milikmu sekarang,” kata nenek Fransiska sambil menyerahkannya.

“Rawat baik-baik. Bukan karena nilainya, tapi karena kisah di baliknya.”

Zahira memeluk selendang itu. Ia tahu, di balik benang-benangnya, ada kisah cinta, perjuangan, dan keberanian.

Hari penampilan tiba. Aula kecamatan dipenuhi penonton. Ada anak-anak madrasah, guru-guru, para orang tua, dan juri dari Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Zahira berdiri di belakang panggung, memegang selendang merah dengan tangan gemetar.

Ia mengingat kata-kata nenek Fransiska. "Ikuti suara selendangmu." Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke tengah panggung.

Musik tradisional mengalun lembut. Zahira mulai menari, dengan gerakan yang mengalir seperti air sungai. Selendangnya berputar, menari bersamanya. Setiap langkah membawa bayangan nenek Fransiska, dan setiap putaran membawa semangatnya naik.

Namun, di tengah tarian, tiba-tiba suara musik berhenti. Ada gangguan teknis. Semua orang terdiam. Zahira pun berhenti sejenak, matanya menatap ke arah penata suara di belakang. Waktu seakan membeku.

Lalu, dengan perlahan, Zahira mulai menari kembali. Tanpa musik. Hanya mengikuti ritme dalam hatinya. Selendang merah tetap melambai, gerakannya tetap anggun. Penonton terkesima. Hening berubah menjadi tepuk tangan perlahan, lalu makin keras. Tak lama kemudian, musik kembali menyala. Tapi Zahira telah menyelesaikan bagian tersulitnya: menari dalam diam.

Ketika pertunjukan usai, Zahira membungkuk hormat. Di sudut aula, nenek Fransiska berdiri sambil menyeka air mata. Satu kalimat keluar dari bibirnya, meski lirih, Zahira bisa membacanya:

“Kamu sudah menari dengan hatimu, cucuku.”

Hari itu Zahira mungkin tidak tahu apakah ia akan menang lomba atau tidak. Tapi ia tahu satu hal yang pasti: ia telah menjaga warisan nenek Fransiskanya dengan penuh cinta.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post