Selendang merah sang Nenek (T.449)
Bab 10 – Pilihan Zahira
Surabaya semakin panas. Bukan hanya karena matahari yang menyengat di musim kemarau, tapi juga karena tekanan yang dirasakan Zahira. Kompetisi tari nasional “Lentera Nusantara” tinggal dua minggu lagi. Pak Bram menominasikan Zahira sebagai salah satu peserta utama untuk mewakili sanggar dalam kategori tari tradisional kontemporer.

“Kalau kamu menang, Zahira,” ujar Pak Bram saat briefing sore itu,
“bukan hanya namamu yang harum, tapi juga sanggar dan tradisi yang kamu bawa. Ini langkah awalmu jadi penari besar.”
Zahira mengangguk pelan. Tapi pikirannya tak benar-benar di ruangan itu. Pikirannya terbang jauh, menyeberangi sawah, bukit, dan hutan… kembali ke rumah kecil di desa, tempat nenek Fransiskanya kini terbaring sakit.
Seminggu sebelumnya, Zahira mendapat surat dari Ibunya. Surat yang membuat hatinya gemetar.
“Nak, Nenek Fransiska sering batuk dan mulai lemah. Ia selalu menyebut namamu. Ia bilang ingin sekali melihatmu menari lagi di halaman rumah…”
Zahira membaca kalimat itu berulang-ulang, seperti mencoba menelan air laut yang asin dan pahit. Tubuhnya berada di Surabaya, tetapi jiwanya ingin pulang. Selendang merah itu pun tak lagi bisa menenangkan hatinya.
Malam itu, Zahira duduk di beranda sanggar, menatap bintang-bintang. Meisya menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat.
“Kamu kelihatan lelah.”
“Aku… bingung, Meisya. Aku harus memilih.”
“Pilih apa?”
“Kompetisi ini penting untukku. Tapi nenek Fransiska… dia lebih penting dari segalanya. Aku takut... kalau aku tak pulang sekarang, aku akan menyesal seumur hidupku.”
Meisya tak berkata apa-apa. Ia hanya memegang tangan Zahira, memberi kekuatan dalam diam.

Pagi berikutnya, Zahira menemui Pak Bram. Jantungnya berdebar. Ia tahu keputusannya akan mengecewakan banyak pihak.
“Pak Bram… saya ingin izin pulang ke desa.”
Pak Bram memandangnya, diam beberapa saat.
“Kamu tahu, Zahira, saya tak pernah ingin menghalangi apa pun yang berasal dari hatimu.”
Zahira tertegun.
“Kamu boleh pulang. Tapi ingat satu hal… penari sejati bukan hanya ada di panggung. Tapi di mana pun dia menari, dia membawa cahaya. Jangan pernah ragu, Zahira. Pulanglah jika itu yang kamu butuhkan.”
Zahira menunduk, air mata mengalir.
“Terima kasih, Pak…”
Perjalanan pulang Zahira terasa seperti perjalanan pulang paling panjang dalam hidupnya. Ketika tiba di depan rumah, ia melihat nenek Fransiska duduk di kursi bambu, lebih kurus dari terakhir ia lihat. Tapi begitu mata mereka bertemu, senyum nenek Fransiska merekah seperti mentari pagi.
“Zahira… kamu pulang…”
Zahira berlari dan memeluk nenek Fransiska. Tangisnya pecah. Ia tak peduli jika dunia menilainya lemah karena meninggalkan panggung besar. Yang penting, ia ada di sini. Di rumah. Di pangkuan orang yang mencintainya sepenuh hati.
Selama beberapa hari berikutnya, Zahira merawat nenek Fransiskanya. Ia menyiapkan makanan, membacakan cerita, bahkan menari kecil-kecilan di halaman rumah. Meskipun tubuh nenek Fransiska melemah, matanya selalu berbinar melihat Zahira menari.
“Nek, Zahira bawa selendang merah ini ke mana-mana,” katanya suatu sore.
“Tapi ternyata, tempat terbaik untuk menari tetap di sini. Di hadapan nenek Fransiska.”
Nenek Fransiska tersenyum.
“Selendang itu bukan hanya untuk tari, Zahira. Ia pengikat cinta kita. Kalau kamu menari dengan cinta, di mana pun kamu berada… aku pasti melihatmu.”
Suatu malam, Zahira menerima pesan dari Meisya.
“Zahira, koreografi karyamu tetap ditampilkan di final Lentera Nusantara. Kami menari membawakan gerakanmu. Dan tahu tidak? Penonton berdiri semua di akhir tarian.”
Zahira menutup matanya, selendang merah digenggam di dadanya. Ia tak menang kompetisi, tapi ia memenangkan sesuatu yang jauh lebih dalam cinta, warisan, dan arti sebenarnya dari menjadi penari.
=================================================================
Garahan, 20 Mei 2025 / Selasa, 22 Dzulqo'dah 1446 H, 07.38 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
