Selendang merah sang Nenek (T.456)
Bab 16 – Undangan Kedua dari Ibu Kota
Pagi itu Zahira duduk di beranda sanggar, menatap halaman yang kini semakin ramai oleh anak-anak baru yang mulai berdatangan untuk ikut berlatih. Hari masih muda, tapi udara desa Pelangi terasa hangat oleh semangat yang membuncah. Sejak mereka pulang dari Jakarta, semua anak seolah berlomba ingin menjadi bagian dari Sanggar Anak Langit.
Suara motor Pak Lurah mengusik keheningan pagi. Ia datang membawa sebuah amplop resmi berstempel Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Zahira, surat dari Jakarta,” katanya sambil tersenyum.
Zahira menerima surat itu dengan tangan bergetar. Ia membuka perlahan, membaca isi undangan itu dengan mata melebar. Hatinya berdegup cepat.
Dengan hormat,
Sehubungan dengan prestasi Sanggar Anak Langit dalam Festival Budaya Anak Nasional, kami mengundang tim Ibu Zahira untuk menampilkan tarian ‘Selendang Merah’ pada acara penutupan yang akan digelar di Istana Merdeka, bersama perwakilan anak-anak budaya dari seluruh penjuru Nusantara.
Zahira memejamkan mata, mencoba mencerna arti dari setiap kalimat. Istana Merdeka? Tempat Presiden? Ini bukan sekadar pentas. Ini adalah panggung kehormatan.
Kabar itu segera menyebar ke seluruh desa. Ibu-ibu menyiapkan makanan untuk syukuran kecil, anak-anak latihan menari lebih rajin dari biasanya, bahkan para pemuda ikut membantu memperbaiki sanggar.
Di tengah kesibukan itu, Zahira mengumpulkan anak-anak yang dulu ikut ke Jakarta.
“Kita diundang kembali. Kali ini tampil di Istana Merdeka. Tapi bukan berarti kita berangkat begitu saja,” katanya tegas.
“Kita harus bawa lebih dari sekadar gerakan. Kita bawa hati, cerita, dan semangat desa ini.”
Dani mengangkat tangan.
“Kak, boleh nggak kita tambah elemen baru di tarian kita? Biar lebih berwarna?”
“Usul yang bagus,” jawab Zahira.
“Apa yang kamu bayangkan?”
“Bagaimana kalau di akhir tarian, kita bentuk formasi bintang lima? Melambangkan sila Pancasila yang kita pegang.”
Zahira tertegun, lalu tersenyum bangga.
“Luar biasa, Dan.”

Latihan dimulai dengan serius. Tak hanya anak-anak yang dulu ikut, tapi juga beberapa anak baru yang ingin bergabung. Zahira membagi mereka menjadi dua kelompok: tim utama dan tim pendukung yang menabuh alat musik dan menyanyi latar.
Rani yang semula pemalu kini menjadi pemimpin kelompok kecil. Ia membimbing adik-adik menari, membetulkan posisi tangan mereka, dan menyemangati setiap kesalahan dengan senyum.
Setiap sore, Zahira duduk di depan sanggar, menonton latihan dan mencatat di buku kecilnya. Kadang ia tersenyum, kadang ia meneteskan air mata.
"Bu Nenek Fransiska," bisiknya,
"lihatlah, kisahmu kini menari dalam diri mereka."
Dua minggu menjelang keberangkatan, hujan deras mengguyur desa. Salah satu selendang merah yang dijemur hilang terbawa angin.
Zahira panik.
“Itu selendang warisan dari nenek Fransiska!”
Anak-anak ikut mencari hingga malam, menerangi jalan-jalan desa dengan senter kecil. Akhirnya, Dani menemukannya tersangkut di ranting pohon nangka di belakang masjid.
“Kak, selendangnya kotor. Tapi nggak rusak.”
Zahira menerima dengan air mata.
“Terima kasih, Dan. Ini bukan hanya kain, ini bagian dari jiwa kita.”
Selendang itu dicuci dan dijemur dengan hati-hati. Anak-anak lain ikut membantu membersihkannya, seolah sedang memandikan pusaka.
Hari keberangkatan pun tiba. Kali ini, bukan hanya bus kecil, tapi satu bus besar yang disediakan oleh pemerintah kabupaten.
Zahira berdiri di pintu sanggar, memeluk anak-anak satu per satu.
“Jangan bawa rasa takut. Bawa rasa cinta. Kita bukan datang untuk menang, tapi untuk memberi,” katanya pelan.
Saat bus mulai berjalan, Zahira melambai pada orang-orang desa yang berdiri di pinggir jalan, mengibarkan saputangan, membawa doa dan harapan.
Di dalam bus, Dani berbisik ke Rani,
“Kita mau nari di depan Presiden ya?”
“Iya,” jawab Rani.
“Tapi yang lebih penting, kita nari di depan dunia. Biar mereka tahu, desa kecil kita punya cerita besar.”
Zahira tersenyum mendengar percakapan itu. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka bukunya, menulis:
“Selendang Merah bukan hanya milik nenek Fransiskaku. Kini ia milik mereka. Milik kita semua.”
================================================================
Garahan, 26 Mei 2025 / Senin.28 Dzulqo'dah 1446 H, 08.01 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
