Selendang merah sang Nenek (T.447)
Hari-hari Zahira setelah menerima kabar kemenangan berubah menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Ia mulai bangun lebih pagi, memperpanjang waktu latihannya hingga sore menjelang maghrib. Di ruang tengah rumah, tempat nenek Fransiska biasa menari dulu, kini menjadi sanggar Zahira yang baru. Karpet digulung, cermin kecil dipasang di tembok, dan selendang merah selalu tergantung rapi di kursi kayu.
“Jangan hanya hafal gerakannya, Zahira,” kata nenek Fransiska suatu sore sambil menonton latihan. “Tari itu seperti bercerita. Kalau kamu tidak merasa, penonton pun tak akan terbawa.”
Zahira mengangguk pelan. Ia mengulang lagi bagian gerakan tangan yang menggambarkan angin gunung. Bayangan lembut dan anggun nenek Fransiska selalu jadi referensi di kepalanya.
Namun, di luar rumah, Zahira mulai menghadapi ujian yang lain.
“Eh, Zahira sekarang sok sibuk ya?” sindir Sinta, salah satu teman sekelasnya saat Zahira lewat di lorong sekolah.
“Paling juga cuma ikut lomba di tingkat kecamatan, gayanya udah kayak penari nasional,” timpal Tari sambil tertawa mengejek.
Zahira berhenti melangkah. Ia menatap mereka, namun memilih tersenyum kecil dan melanjutkan jalan. Tapi di dalam hatinya, luka kecil mulai tumbuh. Zahira bukan anak yang suka mencari perhatian. Tapi ternyata, tak semua orang senang dengan pencapaiannya.
Di rumah, Zahira duduk termenung di teras, membolak-balik pita rambut merah nenek Fransiska. Nenek Fransiska datang dengan dua gelas teh hangat dan duduk di sampingnya.

“Kamu kelihatan lesu hari ini. Ada apa, Nak?” tanya nenek Fransiska lembut.
Zahira menghela napas. “Teman-temanku mulai menjauh, Nek. Mereka bilang aku berubah, sok sibuk, dan sombong.”
Nenek Fransiska tersenyum pelan. “Kamu tahu, Zahira? Saat nenek Fransiska dulu pertama kali tampil di panggung kota, teman-teman nenek Fransiska pun melakukan hal yang sama. Cemburu itu manusiawi. Tapi kamu harus tetap rendah hati dan tidak membalas dengan rasa marah.”
Zahira terdiam.
“Kamu bukan sedang menari untuk menyaingi siapa pun. Kamu sedang menari untuk merawat cerita yang hampir hilang. Selama niatmu tulus, biarkan waktu menjawab semuanya.”
Suatu pagi, Bu Cicikmembawa kabar baru ke rumah Zahira.
“Zahira, ini Pak Rafi. Beliau pelatih tari profesional dari kabupaten. Kamu akan dibimbing langsung oleh beliau selama persiapan ke festival.”
Zahira terkejut, begitu juga nenek Fransiska.
Pak Rafi adalah pria paruh baya dengan rambut sedikit memutih dan sorot mata tajam. Ia menatap Zahira dari ujung kaki hingga kepala.
“Baik. Kita mulai lusa. Saya tidak ingin kamu hanya menari seperti anak lomba biasa. Saya ingin kamu menghidupkan kembali warisan dalam setiap gerakanmu.”
Latihan bersama Pak Rafi dimulai dengan keras. Ia mengoreksi postur Zahira, menyuruhnya mengulang gerakan berulang-ulang hanya karena satu ayunan tangan yang kurang luwes.
“Jangan hanya tiru, Zahira. Rasakan. Kamu itu anak darah penari. Tunjukkan itu!”
Kadang Zahira pulang dengan kaki pegal, kadang menangis diam-diam di kamar karena merasa tidak cukup baik. Tapi setiap kali ia melihat selendang merah itu, semangatnya bangkit lagi. Ia tahu, ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang membuktikan bahwa darah nenek Fransiska masih mengalir dalam tubuhnya.
Suatu sore saat latihan, Pak Rafi memperhatikan Zahira yang kini menari lebih luwes, lebih hidup.
“Sekarang aku mulai percaya, kamu memang punya jiwa itu,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tapi jangan terlalu percaya diri. Panggung berikutnya akan mempertemukanmu dengan penari-penari terbaik se-kabupaten.”
Zahira mengangguk. Ada sedikit gemetar di hatinya. Tapi ia sudah tidak bisa mundur. Ini jalannya. Ini takdir yang sudah dikecup oleh kisah nenek Fransiska.
Dan Zahira akan menari... sampai dunia tahu bahwa di sebuah desa kecil, ada seorang gadis muda yang menari bukan hanya dengan tubuhnya, tapi juga dengan hati yang diwarisi dari cinta masa lalu.
=================================================================
Garahan, 16 Mei 2025 / Jum'at Pon, 18 Dzulqo'dah 1446 H, 08.05 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
