Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Selendang merah sang Nenek (T.462)

Selendang merah sang Nenek (T.462)

Bab 20 – Festival Budaya Anak Nusantara

Desa Garahan belum pernah seramai ini. Sejak pagi, warga dari berbagai penjuru mulai berdatangan, membawa bekal, tikar, bahkan peralatan musik tradisional. Gapura bambu bertuliskan Festival Budaya Anak Nusantara berdiri gagah di depan lapangan desa. Bendera kecil warna-warni berkibar ditiup angin. Di tengah lapangan, panggung kayu dihias dengan ornamen batik dan janur kuning.

Zahira berdiri di sisi panggung, mengenakan kebaya hijau lumut dan selendang merah warisan Nenek Fransiska Sri. Matanya berbinar melihat semangat anak-anak dan warga yang bersiap tampil. Rasa lelah dari persiapan selama berbulan-bulan terbayar lunas.

Festival ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah perayaan cinta terhadap budaya, hasil kerja keras anak-anak dari berbagai desa yang selama ini dilatih Zahira dan tim Tari dari Hati.

Satu per satu kelompok tampil membawakan tarian dari daerah masing-masing. Ada tarian Tanduk Majeng dari Madura, Yospan dari Papua, Kecak Bali, hingga Sajojo yang membuat seluruh penonton ikut bernyanyi.

Teriakan gembira terdengar ketika kelompok dari Dusun Gunung Rejo tampil. Raka, si anak pemalu, kini berdiri paling depan dengan percaya diri. Ia memimpin tarian Tari Topeng Cirebon dengan semangat menyala.

Zahira menahan haru.

Dulu anak ini tidak berani menatap mata orang. Sekarang ia menari seperti api kecil yang membakar panggung dengan keyakinan.

Di sela pertunjukan, dibuka juga bazar kecil yang menjual hasil kerajinan tangan, lukisan anak-anak, serta makanan tradisional. Warga desa saling berbagi cerita sambil menikmati klepon, lemper, dan wedang jahe. Bahkan ada yang datang dari kota hanya untuk menyaksikan festival yang katanya "unik dan menyentuh."

Di sudut panggung, Dani menyiarkan festival ini secara langsung lewat media sosial. Ia juga membagikan cerita-cerita pendek dari setiap kelompok tari.

"Zahira, ini sudah ditonton hampir lima ribu orang!" seru Dani. "Banyak yang tanya bagaimana bisa ikut tahun depan."

Zahira tertawa kecil. "Tahun depan, kita harus siapkan tempat yang lebih luas."

Tiba saat penampilan penutup.

Seluruh peserta festival naik ke atas panggung, membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran, Zahira berdiri sambil membawa selendang merah. Musik lembut mulai mengalun sebuah komposisi hasil kolaborasi alat musik dari berbagai daerah.

Zahira membuka pidatonya:

“Kita datang dari latar belakang berbeda. Tapi hari ini kita menari bersama sebagai anak bangsa. Selendang ini ” Zahira mengangkat selendang merah peninggalan nenek Fransiska, “ bukan sekadar kain. Ini adalah simbol cinta. Cinta terhadap budaya. Cinta terhadap tanah air. Dan cinta terhadap mimpi.”

Ia lalu membagikan potongan-potongan kecil selendang merah kepada perwakilan tiap desa.

“Bawalah ini pulang, dan nyalakan kembali semangat di desamu,” ucap Zahira.

Tangis haru menyelimuti panggung. Anak-anak memeluk satu sama lain, ada yang menitikkan air mata, ada pula yang tertawa sambil menyeka peluh. Malam turun perlahan, dan cahaya obor mulai dinyalakan di sekeliling lapangan.

Pertunjukan terakhir dimulai sebuah tari kolosal berjudul "Pelita di Ujung Gumitir". Koreografi ini dibuat oleh Zahira dan Nisa selama berbulan-bulan. Gerakan demi gerakan menceritakan perjalanan seorang anak yang mencari cahaya budaya, bertemu banyak teman di jalan, dan akhirnya menjadi cahaya itu sendiri.

Zahira, di tengah panggung, menari dengan seluruh jiwanya. Selendang merah melambai seiring gerak tubuhnya yang lentur dan anggun. Gerakan demi gerakan adalah penghormatan pada Nenek Fransiska Sri, pada desa kelahirannya, dan pada semua anak yang pernah merasa tak punya panggung.

Saat gerakan terakhir selesai, seluruh panggung hening. Lalu tepuk tangan menggema dari segala arah, membentuk gelombang hangat yang memeluk setiap orang di sana.

Langit malam penuh bintang. Dan di antara bintang-bintang itu, Zahira seolah melihat satu cahaya yang lebih terang.

Mungkin itu Nenek Fransiska Sri.

Di ujung malam, Zahira menulis di bukunya:

“Festival ini hanyalah awal. Selendang merah telah berpindah tangan. Dan selama ada yang menari, kisah ini akan terus hidup.”

======================================================

Garahan, 30 Mei 2025 / Jum'at, 02 Dzulhijjah 1446, 09.51 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post