Adigang, Adigung, Adiguna (T.473)
Bab 3: Raja Kijang yang Terlalu Cepat Di antara tiga kerajaan yang ada di Hutan Damai, Kerajaan Langkah Cepat milik Raja Kijang adalah yang paling ramai dengan suara lompatan dan derap kaki yang ringan. Semua rakyat di sana terbiasa bergerak cepat: si kelinci melompat dengan lincah, si rusa kecil menari di antara semak, bahkan para kupu-kupu pun seperti ikut menyesuaikan irama sayapnya dengan gaya hidup gesit sang raja.
Raja Kijang memang terkenal sangat cepat. Tubuhnya ramping, kakinya panjang, dan gerakannya lincah seperti angin pagi yang menari-nari di antara dedaunan. Namun, bukan hanya kecepatannya yang dikenal kesombongannyalah yang membuat banyak hewan lain menggelengkan kepala.
“Cepat adalah segalanya!” seru Raja Kijang setiap pagi saat berlari keliling wilayahnya.
“Siapa yang lambat, akan tertinggal. Siapa yang tertinggal, tak layak menjadi pemimpin!”
Setiap hari, Raja Kijang mengadakan lomba lari. Ia menantang siapa pun rusa, kelinci, bahkan burung kasuari untuk berlomba dengannya. Tapi tentu saja, tak ada yang pernah menang. Dan jika ada yang mencoba menolak, ia akan berkata,
“Tak berani melawan? Wah, pantas tinggal di hutan bagian belakang!”
Di sisi lain, para rakyat mulai lelah dengan kebiasaan raja mereka yang selalu ingin bersaing.
“Raja kita memang hebat,” bisik seekor kelinci kepada temannya,
“tapi apakah semua harus tentang siapa yang paling cepat?”

Namun, tidak ada yang berani menyuarakan pendapat itu langsung. Raja Kijang memang cepat, tapi juga keras kepala. Ia tak suka dikritik. Baginya, pelan berarti malas, lambat berarti lemah.
Suatu hari, saat pagi baru menyingsing, Raja Kijang berdiri di atas batu besar di tengah lapangan rumput. Dengan dada membusung dan kepala tegak, ia berteriak, “Hari ini, aku akan memecahkan rekor! Aku akan berlari keliling wilayah kerajaan hanya dalam satu kedipan mata!”
Para hewan berkumpul, setengah terpesona, setengah khawatir.
“Apakah raja tak pernah lelah?” tanya seekor kura-kura tua dari balik semak. “Bukan tubuhnya yang lelah,” sahut tupai kecil,
“tapi hatinya yang selalu ingin dipuji.”
Raja Kijang mulai berlari. Debu berterbangan. Rumput bergetar. Pohon-pohon pun seperti membungkuk tertiup angin yang diciptakan oleh kecepatan larinya. Semua terdiam melihat betapa cepatnya sang raja melesat melewati hutan.
Namun, dalam satu tikungan tajam, karena terlalu terburu-buru, Raja Kijang tidak melihat seekor landak kecil yang sedang menyeberang. Hampir saja ia menabraknya. Dengan cekatan, Raja Kijang melompat tinggi dan mendarat dengan selamat, tapi landak itu tetap terguling karena tiupan angin yang kuat.
“Maaf, Landak!” ujar Raja Kijang, namun tanpa berhenti ia kembali berlari.
“Aku harus mencetak rekor!”
Landak itu menghela napas dan bergumam pelan,
“Cepat, tapi tak sempat melihat sekitar. Apakah itu pemimpin sejati?”
Sore harinya, Raja Kijang kembali ke istana, bangga akan rekornya. Tapi anehnya, tidak banyak tepuk tangan. Banyak rakyat yang justru sibuk membantu Landak yang terjatuh atau membenahi semak-semak yang rusak karena dilalui Raja dengan kecepatan berlebihan.
Malam itu, saat langit dipenuhi bintang, Raja Kijang duduk sendirian di balkon istana. Ia mulai berpikir, walau hanya sejenak,
“Mengapa hari ini tak ada yang bersorak? Bukankah aku lebih cepat dari kemarin?”
Di tempat lain, seekor burung pipit kecil sedang menyusun ranting untuk membuat sarang barunya. Ia menatap langit, lalu ke arah utara tempat Raja Kijang tinggal. Ia mendesah pelan.
“Secepat apa pun langkah seekor raja, jika ia tak melihat sekelilingnya, ia bisa tersesat dalam kesombongan.”
=================================================================
Garahan, 11 Juni 2025 / Rabu Wage, 14 Juni 1446 H, 07.58 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
