Air Mata di Ujung Pengabdian (T.482)
Mentari pagi menyapa lembut halaman Madrasah Ibtidaiyah Al-Amin Garahan. Hari itu adalah hari yang telah lama dinanti dan sekaligus dikhawatirkan hari perpisahan kelas 6. Sebuah hari yang manis namun juga getir.
Pak Tito, wali kelas 6, berdiri di depan siswa-siswinya. Wajahnya tampak tenang, namun matanya menyimpan ribuan kenangan. Ia telah membersamai mereka selama enam tahun, bukan hanya mengajar, tetapi menjadi teman cerita, pengingat salat, pelipur lara saat siswa mengalami masalah,menari bersama, bernyanyi bersama atau saat nilai ujian tak sesuai harapan.
Suasana menjadi khidmat saat para siswa diminta sungkem kepada orang tua mereka oleh Pak Tito selaku pembawa acara dalam acara lepas pisah dengan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab selaku wali kelas 6 kepada orang tuanya. Iringan doa perlahan mengalun. Satu per satu siswa berjalan pelan menuju ayah dan ibu mereka, menunduk, mencium tangan, memeluk. Suara isak mulai terdengar di bawah terop yang berada di halaman Madrasah.
Pak Tito berdiri tegak di pinggir panggung. Ia mencoba kuat. Namun ketika seorang muridnya tersedu dalam pelukan ibunya dan berkata, “Ibu maafkan saya telah berbuat salah selama ini dan hari ini anakmu lulus dari Madrasah ini” seketika itu air matanya tumpah.
Ia menoleh ke samping, berusaha menyembunyikan wajahnya. Tapi sudah terlambat. Seorang wali murid melihatnya. Diam-diam, ia mengambil ponselnya dan menulis pesan.
Tak lama setelah acara selesai, Satu hari setelah acara lepas pisah, Pak Tito membuka WhatsApp. Satu pesan masuk:
“Terenyuh hati saya melihat Pak Guru meneteskan air mata kemarin pada saat anak-anak disuruh sungkem kepada org tuanya masing-masing.... Saya tidak terharu dengan kelulusan anak saya. Akan tetapi, terharu dengan kegigihan Pak Guru dalam membangun kedekatan emosional dengan para siswa. MasyaAllah keren.. Pak Guru hebat mulai dari jaman saya masih jadi muridnya dulu. Guru favorit dari masa ke masa.... Congratulations you have done a great job, so proud of you.”
Pak Tito terdiam. Jemarinya gemetar. Lalu ia membalas dengan kata-kata dari lubuk hati:
“Jangan mengusik hati yang telah tidur dengan air mata. Tumpahan air mata tak bisa terbendung saat siswa-siswi saya, saya kembalikan ke orang tua. Saya mencoba untuk tidak mengalirkan air mata ini, namun tak kuasa saat mereka memeluk dan mencium tangan orang tua mereka. Benar-benar air mata menceritakan hati yang tulus untuk melepaskan siswa-siswi terbaik saya. Terima kasih atas perhatiannya. Perjuangan saya belum apa-apa dibanding perjuangan Almarhum K.H. Mudhoffar Sukri. Al-Fatihah untuk beliau.”
Tak berselang lama, pesan dari wali murid itu kembali masuk. Kali ini lebih panjang dan menyentuh:
“MasyaAllah, sungguh indah untaian kata Pak Guru... Namun bagi saya, baik Panjenengan maupun Almarhum K.H. Mudhoffar Sukri keduanya adalah pejuang cahaya. Satu menerangi jalan dengan ilmu dan keteladanan, Yang lain menuntun jiwa menuju ketenangan dan keikhlasan.
Kalian adalah pendidik yg sama-sama menanamkan nilai, membentuk jiwa, dan menginspirasi banyak orang. Yang tak hanya mengajar, tapi menggugah. Yang tak sekadar mendidik, tapi juga menghidupkan hati.
Semoga Allah senantiasa membalas setiap peluh dan pengabdian, dan menempatkan Almarhum di taman terbaik-Nya. Aamiin.”
Pak Tito membaca perlahan. Air matanya kembali mengalir. Kali ini bukan karena kehilangan, tapi karena dihargai. Dikenang. Dimaknai.
Di ruang kosong madrasah yang mulai sunyi, Pak Tito duduk di bangku yang biasa dipakai muridnya. Tangannya menyeka air mata yang jatuh di pipi. Ia tahu, perpisahan bukan akhir, tapi sebuah awal. Sebuah babak baru bagi murid-muridnya, dan juga untuknya.
Ia menatap langit dan berbisik lirih:
“Terima kasih ya Allah, telah mempertemukanku dengan anak-anak hebat, dan orang tua yang berhati mulia. Aku akan terus mengajar... sampai detak waktu tak lagi bersuara.”
=================================================================
Garahan, 21 Juni 2025 / Sabtu Wage, 24 Dzulhijjah 1446 H, 00.13 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
