Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bijak Menerima dan Menyebarkan Kabar di Era Media Sosial (T.467a)

Bijak Menerima dan Menyebarkan Kabar di Era Media Sosial (T.467a)

Media sosial kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap saat, kita disuguhi berbagai macam kabar dan informasi yang datang dari berbagai penjuru dunia. Melalui aplikasi seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Facebook, kabar bisa menyebar dengan cepat hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan tantangan besar: banyaknya kabar yang tidak disaring, tidak diklarifikasi, dan bahkan ternyata hoaks alias berita bohong.

Sering kali kita menerima kabar mengejutkan tentang seseorang misalnya kabar duka, kecelakaan, atau kejadian penting lainnya yang langsung tersebar luas ke berbagai grup dan platform. Banyak dari kabar tersebut kemudian terbukti tidak benar, hanya berdasarkan asumsi atau bahkan hasil rekayasa. Namun sayangnya, sebagai penerima, kita terkadang langsung percaya dan ikut menyebarkannya, seolah-olah kabar itu pasti benar adanya.

Inilah masalahnya. Kita sering kali lalai untuk mengecek kebenaran kabar tersebut. Padahal, sebagai manusia yang diberi akal sehat, seharusnya kita mampu berpikir jernih dan bijak. Apakah kita hanya ingin menjadi orang pertama yang membagikan kabar, tanpa peduli dampaknya? Atau apakah kita memang ingin memastikan bahwa informasi yang kita bagikan benar, aman, dan bermanfaat bagi orang lain?

Sebagai warga digital yang cerdas, kita perlu membangun kebiasaan memilah dan memfilter informasi sebelum menyebarkannya. Ada beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan sebelum percaya dan membagikan sebuah kabar:

Cek sumber informasinya: Apakah berasal dari media resmi dan terpercaya? Atau hanya dari status seseorang yang tidak jelas kebenarannya?

Perhatikan tanggal dan konteksnya: Bisa jadi kabar tersebut benar, tapi sudah tidak relevan atau diangkat kembali dari peristiwa lama.

Gunakan logika dan akal sehat: Jika informasi terlalu heboh atau membuat emosi memuncak, biasanya itu dibuat untuk memprovokasi. Hati-hati!

Media sosial bisa menjadi sarana positif jika digunakan dengan tanggung jawab. Ia bisa menjadi alat edukasi, motivasi, dan komunikasi yang membangun. Namun jika disalahgunakan, ia dapat memecah belah, menimbulkan keresahan, bahkan merusak reputasi seseorang yang tidak bersalah.

Maka dari itu, mari kita semua baik pelajar, guru, maupun warga sekolah menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan bertanggung jawab. Jadikan media sosial sebagai tempat menyebarkan kebaikan, fakta, dan semangat positif, bukan ladang penyebaran kabar bohong dan prasangka.

Satu klik "bagikan" bisa membawa manfaat besar, atau justru menciptakan kerugian. Pilihan ada di tangan kita. Mari pikirkan baik-baik sebelum bertindak. Karena di balik setiap kabar, ada nilai moral yang harus kita jaga.

Salam Literasi, Majulah bersama kebenaran, jauhi hoaks dan fitnah!

=================================================================

Garahan, 03 Juni 2025 / Selasa Kliwon, 06 Dzulhijjah 1446 H, 1930 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post