Pengais harapan di kota Pandhalungan (T.464a)
Siang itu panas terik menyengat jalanan Kota Jember. Di sela hiruk-pikuk kendaraan dan riuh suara pasar kaki lima, tampak seorang anak lelaki kecil berjalan pelan menyusuri trotoar bersama ibunya. Baju anak itu sudah lusuh, penuh tambalan, bahkan bagian bahunya berlubang. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit yang sudah tipis, warnanya pun pudar. Di punggungnya tergantung karung putih besar, hampir setinggi tubuhnya sendiri. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah ganco dari besi karatan.
Sementara sang ibu, mengenakan kerudung yang juga pudar warnanya, memikul karung yang lebih besar. Wajahnya lelah, kulitnya legam terbakar matahari. Tapi tatapannya lembut saat memandangi anaknya, seakan semua letih hilang bila berada di samping bocah lelaki itu.
Mereka berdua memunguti botol plastik, gelas air mineral, dan sisa-sisa sampah berharga dari sudut-sudut jalan, tong sampah, dan rerumputan di pinggir trotoar. Langkah mereka lambat, tapi tak pernah berhenti. Sekali waktu, anak itu jongkok, memungut botol minuman energi yang masih basah, lalu melemparkannya ke dalam karung dengan semangat.
Saat mereka melewati deretan warung kaki lima di dekat alun-alun, aroma masakan menyeruak ke udara. Tercium bau sedap nasi goreng, sate ayam yang dibakar, dan gorengan hangat. Di sebuah warung kecil, tampak sekelompok orang duduk sambil tertawa, menyantap makanan dengan lahapnya.
Anak itu berhenti. Matanya tertuju pada sepiring ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalapan. Perutnya tiba-tiba berbunyi. Ia memandangi ibunya lalu berkata lirih, namun cukup jelas terdengar di tengah keramaian.
"Mak… enak ya kalau jadi orang kaya. Mereka bisa makan di mana saja, pilih makanan yang mereka suka. Kapan ya, Mak… kita bisa makan enak kayak mereka?"
Ibunya terdiam. Ia duduk di trotoar, menghapus peluh dari wajahnya. Matanya mulai basah, bibirnya gemetar menahan emosi. Ia meraih tangan anaknya, lalu membelai rambut kasar anak itu dengan lembut. Suaranya lirih, namun penuh harapan dan kekuatan.
"Anakku… kita akan makan enak suatu hari nanti. Mungkin bukan hari ini, tapi Mak yakin, suatu saat kamu akan bisa. Tapi itu semua butuh perjuangan. Kita akan makan enak kalau negeri ini bebas dari kemiskinan. Dan kamu akan bisa makan enak… kalau kamu belajar sungguh-sungguh dan bekerja dengan jujur."
Anak itu mengangguk pelan, matanya tetap menatap piring nasi goreng di warung. Tapi ada cahaya yang berbeda kini di sorot matanya bukan hanya lapar, tapi harapan.
Sang ibu berdiri, mengulurkan tangan. Anak itu meraih tangan ibunya. Mereka kembali berjalan, menyusuri jalan kota. Langkah kaki mereka menyatu dalam irama perjuangan. Karung-karung mereka bergoyang di punggung, menampung rejeki kecil yang mereka kumpulkan dari limbah orang lain.
Meski dunia tak ramah pada mereka, cinta dan harapan tetap mereka bawa dalam setiap langkah. Di tengah debu jalanan dan bunyi klakson, keduanya berjalan bersama: sang ibu dengan kekuatan cintanya, dan si anak dengan mimpinya yang tumbuh perlahan di tengah kerasnya kehidupan kota.
Mereka bukan sekadar pemungut sampah. Mereka adalah pemungut harapan. Dan di jalan yang panas dan keras itu, mereka tetap percaya: masa depan akan lebih baik, asal tak pernah berhenti berjalan.
=================================================================
Garahan, 01 Juni 2025 / Ahad Wage, 04 Dzulhijjah 1446 H, 16.15 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
