Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Adigang, Adigung, Adiguna (T.499)

Adigang, Adigung, Adiguna (T.499)

Bab 27: Hutan Diselamatkan!

Hari-hari berlalu di Hutan Gumitir Cahaya mentari kembali menari-nari di sela-sela dedaunan yang hijau. Sungai mengalir tenang, burung-burung kembali berkicau riang, dan suara anak-anak rusa bermain di padang rumput terdengar lagi. Tak ada lagi suara mesin. Tak ada lagi pohon yang tumbang.

Hutan Damai… telah diselamatkan.

Di bawah Pohon Rapat, para hewan kembali berkumpul. Namun kali ini, bukan untuk bermusyawarah dalam ketegangan. Mereka berkumpul untuk merayakan kemenangan yang manis dan penuh makna.

“Ini bukan kemenangan Raja Kijang,” ujar Kijang sambil menunduk,

“bukan pula kemenangan Raja Gajah, atau Raja Ular.”

Raja Gajah mengangguk.

“Ini kemenangan semua. Kemenangan kerja sama.”

Raja Ular menjulurkan lidahnya pelan,

“Dan kemenangan hati yang bersih. Bahkan manusia bisa mendengarnya, walau tanpa kata-kata.”

Pipit kecil, yang duduk di atas ranting rendah, tersenyum melihat perubahan besar itu. Ia tak pernah ingin jadi pahlawan, apalagi pemimpin. Ia hanya ingin rumahnya tetap ada, tempat anak-anak burung bisa belajar terbang, tempat semut dan kupu-kupu bisa bersenda gurau, tempat pohon-pohon bisa berdiri dengan damai.

Kabar bahwa manusia telah meninggalkan proyek penebangan menyebar ke seluruh hutan. Bahkan dari rawa-rawa jauh dan puncak bukit, hewan-hewan datang membawa kabar baik dan hadiah sederhana: buah-buahan, biji-bijian, bahkan nyanyian yang disusun oleh burung murai.

“Lihat,” kata seekor tupai,

“burung hantu dan tikus tanah bisa duduk berdampingan hari ini.”

“Dan musang tidak mengejar ayam, mereka malah menari bersama!” ujar ayam jantan sambil tertawa.

Pesta sederhana digelar. Para semut membangun meja-meja kecil dari ranting. Lebah menghadirkan madu terbaik dari sarang tertua mereka. Sementara kupu-kupu terbang membentuk lingkaran warna-warni di langit.

Raja Gajah kemudian melangkah ke depan, suaranya tenang namun berwibawa. “Mari kita jaga hutan ini bersama. Bukan karena takut akan bahaya, tapi karena kita mencintainya.”

Raja Kijang menimpali,

“Tak akan ada lagi yang paling cepat, paling kuat, atau paling pintar. Yang ada adalah yang paling peduli.”

Semua makhluk bersorak.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara drone kecil yang melayang di udara. Para hewan sempat terdiam. Tapi Pipit mengangkat sayapnya dan berkata,

“Tenang. Mereka hanya ingin melihat, bukan merusak. Dunia mulai sadar kita ada.”

Ternyata, sejak kabar "Hutan Ajaib" menyebar, manusia mulai mengirim tim dokumentasi. Bukan untuk menebang atau menguasai, tapi untuk belajar dan mengenal. Hutan Gumitir kini mulai dijaga oleh peraturan baru dari pemerintah daerah: zona lindung, tak boleh diganggu.

Raja Ular tersenyum,

“Terkadang, keajaiban tidak datang dari sihir. Tapi dari keberanian untuk bersatu.”

Hari itu, mentari tenggelam dengan damai di balik perbukitan. Hutan Damai tetap hijau, tetap hidup, dan tetap utuh, bukan karena kekuatan tiga raja, tapi karena kekuatan persatuan dan kasih sayang.

Dan di sebuah ranting tertinggi, seekor Pipit kecil menatap langit yang merah keemasan.

“Hutan ini telah selamat,” bisiknya. “Tapi tugas menjaga... baru saja dimulai.”

===========================================================================================

Garahan, 07 Juli 2025 / Senin Kliwon, 11 Muharraom 1447 H, 08.34 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post