Adigang, Adigung, Adiguna (T.500)
Bab 28: Permintaan Maaf Tiga Raja
Pagi itu, kabut tipis menyelimuti Hutan Gumitir, seperti selimut lembut yang menyapa setelah malam yang panjang. Namun suasana di bawah Pohon Rapat terasa berbeda. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada musik dari serangga hutan, tidak pula tawa-tawa kecil dari para burung.
Tiga raja besar berdiri di tengah lingkaran hewan. Wajah mereka tak segagah biasanya. Sorot mata Raja Kijang yang dulu tajam kini teduh. Raja Gajah tampak menunduk, dan Raja Ular, yang biasanya bicara dengan percaya diri, hari ini hanya menggoyangkan ekornya pelan.
Pipit kecil terbang rendah, mendarat di atas dahan yang menghadap ke arah ketiga raja. Ia tahu apa yang akan terjadi hari ini.
Raja Kijang melangkah maju pertama kali.
“Saudara-saudaraku,” ucapnya dengan suara lembut,
“aku, Raja Kijang, ingin meminta maaf. Aku terlalu bangga dengan kecepatanku, sampai tak mau mendengarkan yang lebih lambat dariku. Aku mengira, dengan lari kencang, aku bisa menyelamatkan semuanya. Tapi nyatanya, aku malah hampir meninggalkan kalian semua.”
Semua hewan mendengarkan dalam diam. Beberapa mengangguk pelan.
Kemudian, Raja Gajah maju.
“Aku, Raja Gajah,” katanya sambil mengangkat belalai ke dada,
“Telah salah. Aku pikir kekuatan fisik bisa menyelesaikan segalanya. Aku menghancurkan, mendorong, bahkan mengamuk. Tapi aku hanya menambah kekacauan. Aku minta maaf… pada kalian… dan pada hutan ini.”
Raja Gajah menunduk, air matanya menetes dan membasahi tanah.
Terakhir, Raja Ular meluncur ke tengah lingkaran. Suaranya tenang, tapi sarat penyesalan.

“Aku, Raja Ular, terlalu percaya pada akal. Aku pikir semua bisa kuatasi dengan rencana. Tapi aku lupa, tak semua hal bisa dihitung dan dikendalikan. Aku bahkan hampir membiarkan persatuan ini hancur karena egoku. Maafkan aku.”
Saat ketiga raja telah bicara, suasana tetap hening untuk beberapa detik. Lalu terdengar suara kecil suara Pipit.
“Aku mendengar ketulusan dalam kata-kata kalian. Dan aku percaya, semua hewan di sini juga mendengarnya.”
Seekor rusa kecil maju dan berkata,
“Kami memaafkan. Karena kami pun pernah salah menilai kalian.”
Disusul oleh burung hantu tua,
“Kami hidup bersama, dan kami belajar bersama. Yang penting adalah kalian mau berubah.”
Tiba-tiba, seekor anak musang berteriak,
“Ayo peluk Raja Gajah! Dia besar, tapi hatinya lembut!”
Tawa pun pecah di antara para hewan. Raja Gajah tersenyum malu, tapi dengan senang hati mengangkat beberapa binatang kecil ke punggungnya. Raja Kijang melompat-lompat bersama anak rusa, sementara Raja Ular menari kecil bersama para burung yang mengepakkan sayap di atas kepalanya.
Pipit kembali bicara,
“Hari ini, kita tak lagi punya tiga raja yang saling bersaing. Kita punya tiga pemimpin yang rendah hati. Dan itu jauh lebih berharga.”
Tiga raja berdiri berdampingan, tak ada lagi siapa yang paling depan. Kini mereka berdiri sejajar, bersama semua hewan lain.
Langit pagi pun mulai cerah, seperti ikut merayakan kedamaian baru yang terlahir.
“Kami bukan yang paling kuat,” kata Raja Gajah. “Kami bukan yang paling cepat,” kata Raja Kijang. “Kami bukan yang paling cerdik,” kata Raja Ular. “Tapi hari ini,” ujar mereka serentak,
“kami ingin menjadi yang paling tulus menjaga Hutan Gumitir.”
Dan semua makhluk hutan pun tahu: hari itu adalah awal dari babak baru, yang lebih indah dari sebelumnya.
================================================================
Garahan, 08 Juli 2025 / Selasa Legi, 12 Muharram 1447 H, 09.19 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
