Apa Bubble of Perception? (T.518)
Ketika membuka gawai platform tiktok ada sebuah diskusi menarik di salah satu TV swasta, menurut saya sangat menarik tentang sebuah diskusi yang sekarang lagi trending topic yaitu Pro-kontra Fatwa MUI mengharamkan sound horeg. Akan tetapi, fokus saya tentang sebuah kata yang sangat mengganggu pikiran saya yaitu Bubble of Perception sehingga saya mencari tahu tentang hal tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali merasa bahwa pandangan kita terhadap dunia adalah yang paling benar dan objektif. Padahal, kenyataannya, cara kita memaknai setiap peristiwa dipengaruhi oleh apa yang disebut dalam psikologi sebagai bubble of perception sebuah gelembung persepsi yang membungkus realitas kita secara personal. Konsep ini menyoroti bahwa setiap individu memandang dunia melalui lensa yang dibentuk oleh pengalaman hidup, nilai, emosi, dan latar belakang sosial-budaya mereka.
Bubble of perception menjelaskan mengapa dua orang bisa memiliki pendapat yang sangat berbeda tentang suatu hal, padahal mereka menyaksikan kejadian yang sama. Misalnya, ketika seorang anak berbicara dengan nada keras, seorang guru mungkin melihatnya sebagai tindakan tidak sopan, sementara orang lain yang memahami latar belakang keluarga anak tersebut mungkin melihatnya sebagai bentuk ekspresi keberanian. Kedua orang ini tidak salah, mereka hanya melihat melalui gelembung persepsi masing-masing.
Fenomena ini menjadi tantangan besar dalam komunikasi antarpersonal dan pengambilan keputusan. Kita sering terjebak dalam gelembung ini tanpa menyadarinya, lalu bersikap menghakimi, menutup diri, bahkan menolak informasi yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Dalam konteks yang lebih luas, seperti media sosial, bubble of perception diperkuat oleh algoritma yang hanya menyajikan konten yang kita sukai, sehingga membatasi kita dari melihat sudut pandang lain.
Oleh karena itu, kesadaran akan keberadaan bubble of perception menjadi sangat penting. Kita perlu belajar untuk memecahkan atau setidaknya melonggarkan gelembung ini agar mampu memahami bahwa kebenaran tidak selalu tunggal. Latihan empati, mendengarkan secara aktif, dan membuka ruang dialog dengan orang yang berbeda pandangan merupakan langkah kecil tapi sangat berarti untuk keluar dari gelembung kita.
Akhirnya, dunia ini terlalu kompleks untuk dipahami dari satu sudut pandang saja. Makin kita menyadari bahwa kita hidup dalam persepsi yang terbatas, makin besar pula peluang kita untuk tumbuh, memahami, dan menciptakan hubungan sosial yang lebih sehat. Karena sejatinya, hidup bukan tentang mempertahankan kebenaran pribadi, melainkan tentang belajar melihat dunia melalui mata orang lain.
=================================================================
Garahan, 26 Juli 2025 / Sabtu Wage, 30 Muharram 1447 H, 09.24 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
