Bab 15 Mengucap Sampai Jumpa (T.516a)
Pagi itu datang dengan suasana yang berbeda. Langit bersih, angin bertiup tenang, dan sinar matahari turun seperti pelukan hangat dari langit. Tapi di hati Hira, ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Ia tahu, hari ini adalah hari terakhirnya sebagai ulat.
Malam tadi, ia tidak tidur nyenyak. Tubuhnya semakin berat, dan rasa kantuk datang silih berganti. Tapi bukan kantuk biasa ini seperti panggilan alam yang lembut dan dalam.
“Aku akan memulai perubahan itu hari ini,” kata Hira pelan pada dirinya sendiri.
Ia lalu berjalan pelan menyusuri akar-akar dan batang tanaman, mencari tempat yang tenang dan aman. Sebuah ranting kokoh di balik semak tampak sempurna. Di sana, ia akan menggantung tubuhnya dan berdiam selama hari-hari ke depan.
Namun sebelum itu, ia ingin bertemu teman-temannya.
Di bawah naungan daun lebar, Lala dan Riri sudah menunggu. Kelopak Lala bergetar pelan tertiup angin. Matanya tampak berkaca-kaca, meski ia tetap tersenyum.
“Hira…” Lala mendekat.
“Benarkah hari ini?”
Hira mengangguk.
“Aku bisa merasakannya. Sudah waktunya.”
Riri melompat mendekat.
“Kami… akan merindukanmu. Sangat.”
“Aku juga akan merindukan kalian,” kata Hira. Suaranya pelan, namun hangat. “Kalian adalah bagian dari perjalananku. Tanpa kalian, aku mungkin tidak akan berani sampai sejauh ini.”
Lala menyentuhkan kelopaknya ke tubuh Hira.
“Jangan takut. Kami akan menunggumu. Apa pun yang terjadi, kau tetap sahabat kami.”
Riri menambahkan:
“Dan saat kau keluar nanti… kami akan jadi yang pertama memanggil namamu.”
Hira tersenyum kecil. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di dalam kepompong nanti. Ia hanya tahu bahwa ia tidak sendirian. Itu sudah cukup untuk membuatnya tenang.
“Aku tak tahu berapa lama aku akan diam,” katanya.
“Mungkin beberapa hari, mungkin lebih. Tapi aku percaya… saat aku bangun nanti, dunia akan terasa baru.”
Ia lalu mengeluarkan dua benda kecil yang ia simpan sejak kemarin: sehelai kelopak bunga dari Lala dan biji mungil dari Riri. Ia menempelkannya di dekat ranting tempat ia akan menggantung nanti.
“Itu akan jadi pengingat bahwa kalian pernah di sini. Dan menunggu.”
Lalu, dengan gerakan pelan, Hira mulai menaiki ranting. Ia menggantungkan tubuhnya dengan mantap. Angin berembus lembut, seolah berkata,
“Waktunya tiba.”
Lala dan Riri menatap dari bawah, diam. Tak ingin menangis, tapi mata mereka sudah menggenang.
Hira menunduk sedikit:
“Sampai jumpa, ya.”
“Sampai jumpa,” jawab Lala dan Riri bersamaan.
Dan perlahan-lahan… tubuh Hira mulai berubah. Lapisan halus menutupinya seperti selimut alam. Ia diam, tidak bergerak. Tapi semua yang menyaksikan tahu, itu bukan akhir itu awal yang baru.
Hari itu, ranting kecil menjadi rumah bagi harapan. Di sanalah Hira berdiam, menjalani proses yang tak seorang pun tahu pasti seperti apa rasanya.
Namun yang pasti, dunia di sekitarnya tetap berputar. Lala tetap menyanyi di pagi hari. Riri tetap mencari serpihan daun dan menjaga tempat itu. Dan setiap hari, mereka menyapa kepompong kecil itu dengan lembut.
“Hira, kami masih di sini,” kata mereka. “Hira, kami menunggumu.”
Dan angin pun terus berbisik lembut di antara daun-daun, mengabarkan ke seluruh kebun bahwa seekor ulat kecil bernama Hira sedang bersiap menjadi sesuatu yang lebih besar.
=================================================================
Garahan, 24 Juli 2025 / Kamis pahing, 28 Muharram 1447 H, 09.11 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
