Hiira, Si Ulat kecil yang sabar (T.522a)
Bab 20: Surat untuk Hira
Angin sore bertiup pelan, membelai kelopak-kelopak bunga yang bergoyang lembut. Cahaya matahari mulai meredup, meninggalkan sinar keemasan di balik pepohonan. Di tengah suasana yang damai itu, Hira kembali ke cabang pohon cemara tempat ia biasa beristirahat. Namun sore ini terasa berbeda.
“Hiraaa…!” seru suara kecil dari kejauhan. Ternyata Riri si semut, Cici si kelinci, dan sekelompok teman-teman taman lainnya berlari ke arahnya.
“Kami punya sesuatu untukmu!” kata Cici dengan mata bersinar-sinar.
Hira menatap mereka bingung.
“Apa itu?”
Riri mengangkat sehelai daun besar yang dilipat dengan rapi, dihias kelopak-kelopak kering berwarna merah muda dan kuning. Di bagian depannya tertulis:
“Untuk Hira, Kupu-Kupu yang Menyembuhkan.”
“Ini... apa?” bisik Hira pelan, nyaris tak percaya.
“Itu surat dari kami semua,” jawab Lala.
“Kau telah banyak menolong dan menyemangati kami. Sekarang giliran kami yang ingin menyampaikan sesuatu padamu.”
Dengan hati-hati, Hira membuka lipatan daun itu. Di dalamnya, terdapat coretan-coretan kecil dari berbagai makhluk taman. Masing-masing menuliskan pesan, kenangan, dan rasa terima kasih untuk Hira.
Lala si Kelinci: Hira, dulu aku sering cemas dengan telingaku yang panjang. Tapi kau bilang itu unik dan indah. Terima kasih telah membuatku percaya diri.
Riri si Semut: Dengan kakimu yang dulu pendek, kau tetap naik bukit dan tak menyerah. Saat aku lelah bekerja, aku selalu ingat semangatmu.
Kiko si Kumbang: Aku suka warna-warni di sayapmu, tapi yang paling aku kagumi adalah hatimu yang tidak pernah marah meski diejek. Kau membuatku ingin jadi lebih baik.
Nenek Kupu-Kupu: Kau bukan hanya murid yang sabar, tapi juga guru bagi taman ini. Sayapmu memang indah, tapi ketulusanmu lebih indah lagi.
Air mata bening jatuh dari mata Hira. Ia memeluk surat itu dengan erat. Tangannya bergetar bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang begitu dalam.
“Kenapa kalian melakukan ini?” tanyanya pelan, suaranya nyaris pecah.
“Karena kami menyayangimu, Hira,” jawab Lala.
“Dan kami ingin kau tahu, bahwa taman ini tidak akan sama tanpamu.”
Hira menunduk haru. Ia menyadari bahwa selama ini, ia tidak hanya berubah secara bentuk. Ia telah menjadi bagian penting dalam kehidupan makhluk-makhluk kecil lainnya. Kesabarannya yang dulu tak dianggap, kini berbuah cinta dan penghormatan.
“Terima kasih... sungguh, aku tak tahu harus bilang apa…” katanya dengan suara terbata-bata.
“Kau tak perlu bilang apa-apa, Hira,” ucap Nenek Kupu-Kupu sambil tersenyum. “Kau hanya perlu terus menjadi dirimu sendiri.”
Sore itu, mereka duduk bersama di bawah pohon besar, membaca surat bersama, tertawa, menangis, dan memeluk satu sama lain. Langit menghangat, burung-burung berkicau merdu, dan harum bunga memenuhi udara.
Surat untuk Hira bukan sekadar hadiah, tetapi bukti bahwa kebaikan akan selalu kembali, meski mungkin tak segera.
Dan di antara lembayung senja, Hira mengepakkan sayapnya perlahan, terbang perlahan ke udara… membawa cinta yang tak akan pernah layu.
================================================================
Garahan, 29 Juli 2025 / Selasa, 03 Safar 1447 H, 11.47 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
