Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.505)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.505)

Bab 4: Capung dan Kumbang yang Tak Ramah

Langit kebun tampak biru jernih siang itu. Cahaya matahari menyinari kelopak-kelopak bunga yang terbuka penuh. Aroma harum bunga kenanga dan mawar menyatu di udara, membawa rasa tenang bagi siapa saja yang lewat.

Hira, si ulat kecil yang sabar, sedang berjalan perlahan di batang pohon randu yang rindang. Ia baru saja selesai sarapan daun jambu yang sederhana tapi lezat. Perutnya kenyang, hatinya senang.

“Alhamdulillah,” gumam Hira pelan.

“Daun apa pun rasanya nikmat jika dimakan dengan rasa syukur.”

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Dari arah atas, terdengar suara sayap bergetar cepat.

“Zzzzztttt…”

Seekor capung berwarna jingga mendarat dengan gaya di atas ranting. Sayapnya bening, panjang, dan berkilauan terkena sinar matahari. Tak jauh darinya, muncul kumbang hitam besar yang berkilat seperti batu permata. Mereka dikenal sebagai dua serangga paling angkuh di kebun: Capung Jingga dan Kumbang Hitam.

“Haiii, lihat siapa itu!” teriak Capung Jingga sambil tertawa:

“Si ulat hijau yang tidak pernah tumbuh-tumbuh!”

Kumbang Hitam ikut menimpali:

“Apa kabar, Hira? Masih suka merayap pelan dan makan daun murah?”

Hira berhenti dan mengangkat kepalanya. Ia melihat kedua serangga itu dengan wajah datar, tapi tidak marah. Ia tahu mereka berdua suka menyombongkan diri dan merendahkan yang dianggap lemah.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya,” jawab Hira dengan suara lembut.

Capung mendekat dan berputar-putar di atas kepala Hira:

“Aku tadi terbang tinggi sekali! Lebih tinggi dari menara sarang lebah! Semua bunga melihatku dan bertepuk tangan!” katanya bangga.

“Dan aku tadi mendorong batu kecil sendirian!” tambah Kumbang.

“Aku kuat, besar, dan mengkilap! Tak ada yang bisa menyaingiku di kebun ini!”

Hira hanya tersenyum kecil:

“Itu luar biasa. Kalian pasti bangga atas pencapaian itu.”

Capung dan Kumbang saling berpandangan. Mereka heran:

“Hira tidak iri?” bisik mereka.

“Apa kau tidak ingin seperti kami?” tanya Kumbang.

“Punya sayap hebat? Tubuh gagah?”

Hira menunduk sejenak. Ia memandangi tubuhnya sendiri yang kecil dan lambat.

“Kadang, aku memang berpikir ingin bisa terbang seperti capung, atau kuat seperti kumbang,” kata Hira jujur.

“Tapi aku juga belajar untuk mencintai diri sendiri. Aku punya cara sendiri untuk bahagia.”

Capung menyeringai:

“Bahagia? Dengan merayap pelan setiap hari?”

Hira mengangguk:

“Aku mungkin tak bisa terbang, tapi aku bisa menikmati setiap langkah kecilku. Aku tak terburu-buru, dan itu membuatku lebih melihat keindahan di sekitar.”

Kumbang tertawa keras:

“Kau aneh, Hira!”

Hira tak menjawab. Ia memilih diam dan berjalan perlahan menjauh, meninggalkan mereka yang terus tertawa sendiri.

Dari balik bunga matahari, Bunga Lila menyaksikan semuanya. Ia mengangguk kagum.

“Kau kuat dengan cara yang tak bisa mereka lihat, Hira,” bisik Bunga Lila pelan.

Tak lama setelah itu, langit mendadak mendung. Angin bertiup agak kencang. Capung Jingga terbang panik mencari tempat berteduh. Kumbang terburu-buru menyelip ke balik akar.

Hira berlindung di bawah daun lebar, diam dan tenang. Ia menggulung tubuhnya dan menunggu hujan turun.

Dan benar saja. Tetesan hujan mulai membasahi kebun bunga. Tapi Hira tetap sabar. Ia tahu, badai akan berlalu.

Dalam hatinya, ia berkata:

“Bukan seberapa tinggi kita terbang atau seberapa kuat tubuh kita, tapi seberapa damai hati kita saat diuji.”

Dan di bawah tetes hujan, Hira tetap tersenyum, meski tubuhnya basah. Karena hatinya tetap hangat.

=================================================================

Garahan, 13 Juli 2025 / Ahad Legi, 17 Muharram 1447 H, 00.53 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post