Hira, Si ulat kecil yang sabar (T.506)
Malam telah berlalu. Hujan kemarin menyisakan tanah yang lembap dan udara yang sejuk. Daun-daun tampak lebih hijau, dan bunga-bunga mekar dengan kelopak yang segar. Suara alam terdengar nyaring: kicau burung, desiran angin, dan percikan air yang masih menetes dari ujung-ujung daun.
Hira keluar dari balik daun lebar yang kemarin menjadi tempat berteduhnya. Ia menggeliat pelan, lalu melihat langit pagi yang biru dengan mata kecilnya yang bening.
“Terima kasih, hujan,” bisiknya.
“Karena airmu, semua jadi tampak lebih indah hari ini.”
Hira lalu mulai berjalan menyusuri batang pohon, seperti biasa. Ia tidak pernah terburu-buru. Setiap langkahnya ia nikmati. Ia mengamati bunga yang mulai membuka, semut-semut yang sibuk bekerja, dan sarang lebah yang gemuruh penuh aktivitas.
Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara teriakan keras.
“Cepat minggir! Jangan di tengah jalan!”
Itu suara Belalang Sombo, yang kembali melompat dengan gaya. Kali ini ia ditemani Capung Jingga dan Kumbang Hitam.
“Ayo kita ganggu si ulat pelan itu lagi,” kata Capung sambil tertawa kecil.
Mereka bertiga lalu melompat dan terbang mendekati Hira yang sedang menikmati sepotong daun kecil di tepi ranting.
“Hira, kau di sini lagi?” seru Sombo.
“Apa kau tidak bosan hanya jadi ulat yang tak punya kemampuan?”
Capung menimpali:
“Kemarin kami terbang dan melompat di tengah badai. Tapi kau? Hanya sembunyi!”
Kumbang ikut menyahut:
“Kau seperti batu diam, pelan, dan membosankan!”
Hira menoleh pelan ke arah mereka. Ia tidak membalas. Ia tidak marah. Ia hanya menatap mereka satu per satu dengan wajah tenang, lalu kembali menggigit daunnya pelan.

Mereka terdiam.
“Apa… apa kau tidak mendengar kami?” tanya Belalang heran.
Hira berhenti makan, lalu berkata lembut:
“Aku mendengar. Tapi aku memilih untuk tidak menjawab dengan kata-kata.”
Capung mendengus.
“Kenapa? Takut?”
“Bukan takut,” jawab Hira pelan.
“Aku hanya tidak ingin mengisi hariku dengan kata-kata yang menyakitkan. Diamku bukan karena kalah. Tapi karena aku tahu, tidak semua hal harus dijawab dengan suara.”
Kumbang dan Capung saling pandang. Belalang Sombo membuka mulutnya, tapi tak ada lagi yang bisa ia katakan.
Dari balik bunga matahari, Bunga Lila berbisik sendiri
“Ah, Hira… kau memang tahu cara menenangkan badai tanpa mengangkat suara.”
Beberapa semut yang lewat berhenti mendengarkan. Bahkan seekor lebah muda yang terbang rendah ikut terdiam.
Hira melanjutkan makannya, lalu berkata lagi dengan pelan,
“Jika kita membalas ejekan dengan ejekan, maka tak ada bedanya antara yang mengejek dan yang dibalas. Tapi jika kita membalas dengan tenang, kita sedang mengajari tanpa memaksa.”
Capung menunduk. Kumbang terdiam. Belalang mengerutkan dahi.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak menertawakan Hira.
Hari itu, kebun terasa lebih tenang dari biasanya. Angin pagi berhembus lembut, membawa benih bunga beterbangan.
Ketika mereka bertiga pergi, semut-semut kecil menghampiri Hira.
“Hira, tadi kamu luar biasa!” kata salah satu semut kecil.
“Kami belajar sesuatu hari ini,” tambah semut lainnya.
Hira tersenyum kecil:
“Kadang, diam adalah jawaban paling kuat. Bukan karena takut. Tapi karena kita sedang memilih damai.”
Semut-semut mengangguk, dan hari itu mereka berjalan bersama, membawa daun-daun kecil ke sarang sambil sesekali menoleh ke arah Hira yang tetap tenang.
Hira pun melanjutkan langkahnya. Tidak cepat, tidak heboh, tapi penuh makna. Karena di setiap diamnya, tersimpan kekuatan besar yang tidak bisa dilihat mata
hanya bisa dirasakan oleh hati yang bersih.
=================================================================
Garahan, 14 Juli 2025 / Senin, 18 Muharram 1447 H, 08.59 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
