Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.507)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.507)

Bab 6: Daun Tua yang Bijaksana

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti kebun. Suara burung terdengar lirih di kejauhan. Hira bangun sedikit lebih lambat dari biasanya karena semalam ia tertidur dengan pikiran yang penuh. Ejekan demi ejekan dari Capung, Kumbang, dan Belalang terus berputar-putar di benaknya, meski ia sudah mencoba bersabar dan diam.

Ia bergerak perlahan ke ujung dahan, ingin mencari tempat yang sepi untuk menenangkan hati. Di sana, ia menemukan sehelai daun yang sudah berwarna kuning kecokelatan. Ujungnya mulai mengering, dan urat-uratnya tampak jelas.

Daun itu tampak tenang dan tidak bergerak, seolah sedang merenung.

Hira menghampirinya.

“Selamat pagi, Daun,” sapa Hira sopan.

Daun tua itu bergoyang pelan, seperti membalas salam.

“Kau kelihatan berbeda dari daun-daun lain,” kata Hira perlahan.

“Ya,” jawab Daun dengan suara lembut yang serak:

“Aku sudah lama hidup di pohon ini. Aku telah melihat banyak ulat, kupu-kupu, kumbang, dan capung datang dan pergi.”

Hira duduk di sampingnya, merasa nyaman dengan kehadiran daun tua itu. Ia pun bercerita tentang hari-harinya. Tentang ejekan dari Belalang Sombo, Capung Jingga, dan Kumbang Hitam. Tentang bagaimana ia memilih diam. Dan tentang rasa lelah yang sesekali menyelinap ke dalam hati kecilnya.

Daun tua mendengarkan dengan sabar. Setelah Hira selesai, ia berkata:

“Kau tahu, Hira… aku dulu juga muda. Daunku hijau cerah, besar, dan disukai banyak serangga. Tapi waktu berjalan. Aku menua, menguning, dan kini aku tak lagi menarik.”

“Tapi kau tetap bijaksana dan menenangkan,” kata Hira pelan.

Daun tertawa kecil:

“Kebijaksanaan datang dari waktu dan rasa syukur, Hira. Aku tidak bisa memilih untuk tetap hijau selamanya. Tapi aku bisa memilih untuk tetap bermanfaat sampai detik terakhirku.”

Hira merenung. Kata-kata daun tua itu menyentuh hatinya.

“Kau tahu kenapa aku menyukai ulat sepertimu, Hira?” lanjut Daun.

“Kenapa?” tanya Hira penasaran.

“Karena kau tahu cara hidup dengan perlahan. Kau tidak terburu-buru ingin menjadi hebat. Kau tidak memaksa dirimu untuk menonjol. Tapi kau hadir, tumbuh, dan menerima diri sendiri. Itu indah.”

Hira menunduk malu:

“Tapi kadang aku merasa kecil dan tak berarti.”

Daun tersenyum:

“Justru dari yang kecil lah lahir hal-hal besar. Ketika waktumu tiba, kau akan berubah, Hira. Dunia akan melihat betapa indahnya dirimu. Tapi sebelum itu, belajarlah dari keheningan. Belajarlah dari rasa sabar.”

Hira memandangi daun tua itu. Ia tampak rapuh, tapi bijak. Ia tak mengeluh meski tubuhnya sudah menua. Ia tetap menggantung dengan anggun di rantingnya, memberi tempat berteduh bagi serangga kecil dan memberi nasihat kepada siapa saja yang ingin belajar.

“Aku ingin menjadi seperti Daun,” bisik Hira dalam hati.

“Tetap bermanfaat meski tak lagi sempurna.”

Angin bertiup pelan. Daun tua bergoyang lembut.

“Mungkin esok aku akan jatuh ke tanah,” kata Daun dengan senyum tenang.

“Dan itu bukan akhir. Itu awal dari tugas baruku, memberi makan tanah agar pohon ini terus tumbuh.”

Hira terdiam. Ia belajar satu hal lagi hari itu: segala yang hidup, sekecil apa pun, punya arti, jika dijalani dengan ikhlas dan sabar.

Ketika hari mulai menghangat, Hira pun pamit pada daun tua itu.

“Terima kasih atas nasihatmu. Aku akan ingat semua kata-katamu.”

Daun mengangguk pelan:

“Hiduplah seperti embun, Hira. Datang tanpa suara, tapi memberi kesejukan bagi siapa pun yang disentuhnya.”

Dan Hira pun berjalan kembali, tubuhnya kecil tapi langkahnya mantap. Ia merasa hatinya lebih ringan, lebih tenang, dan lebih siap untuk melanjutkan perjalanan menjadi dirinya yang terbaik.

===================================================================

Garahan, 15 Juli 2025 / Selasa Pon, 19 Muharram 1447 H, 07.39 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post