Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.508)
Pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan bayangan indah di tanah kebun. Suara burung berkicau dari atas ranting, dan udara terasa hangat setelah malam yang cukup dingin.
Hira, si ulat kecil, baru saja bangun dari tidurnya di balik daun jambu. Ia menggeliat pelan, lalu berjalan ke ujung ranting sambil menghirup udara segar.
“Hmmm, pagi yang damai,” bisiknya pelan.
Saat Hira hendak turun ke tanah untuk mencari daun baru, matanya menangkap pemandangan yang menarik. Di bawah pohon besar, tampak barisan semut kecil berjalan rapi membawa potongan daun, remah bunga, dan biji-bijian. Mereka tampak sibuk tapi tidak panik. Langkah mereka cepat, teratur, dan penuh semangat.
“Wah… mereka seperti pasukan kecil yang hebat,” gumam Hira penasaran.
Ia pun merayap turun perlahan dan mendekati mereka. Di antara semut-semut itu, ada satu semut kecil yang terlihat paling aktif. Tubuhnya lebih kecil dari yang lain, tapi ia membawa beban lebih besar. Semut itu bahkan tak berhenti meski keringat tampak menetes di kepala kecilnya.
“Hai,” sapa Hira sopan.
“Namaku Hira. Boleh aku tahu siapa namamu?”
Semut itu menoleh dan tersenyum ramah.
“Halo, Hira! Namaku Riri. Aku semut pekerja.”
“Kau tampak sangat rajin, Riri,” kata Hira kagum.
“Kenapa kau bekerja secepat itu?”
Riri tersenyum sambil tetap berjalan.
“Karena kami, para semut, punya tugas menjaga persediaan makanan di sarang. Musim hujan akan datang sebentar lagi. Kalau tidak disiapkan dari sekarang, kami bisa kelaparan.”

Hira mengikuti langkah Riri dengan perlahan:
“Tapi kenapa kau tidak beristirahat sebentar saja? Kau kelihatan lelah.”
Riri tertawa kecil.
“Kami bekerja bergantian. Setelah ini aku akan istirahat. Tapi selama aku kuat, aku akan terus membantu.”
Hira terdiam. Ia terpukau oleh semangat dan kebersamaan semut-semut itu. Meski kecil, mereka tidak pernah mengeluh. Mereka saling tolong, saling dukung, dan semua bergerak dengan satu tujuan.
“Apakah semua semut di sini bekerja bersama?” tanya Hira.
Riri mengangguk:
“Ya. Kami tidak memikirkan siapa yang paling kuat atau siapa yang paling hebat. Kami hanya ingin bersama-sama membuat sarang kami tetap aman dan cukup makan.”
Hira tersenyum:
“Aku banyak belajar hari ini. Terima kasih, Riri.”
Riri meletakkan potongan daun yang ia bawa, lalu berkata:
“Setiap makhluk punya tugas dan caranya masing-masing. Kau mungkin ulat yang pelan, tapi dari pelan itu kau bisa melihat hal-hal kecil yang kami lewatkan. Jangan pernah merasa rendah diri.”
Hira merasa hatinya hangat mendengar kata-kata itu. Ia tak menyangka akan mendapat semangat dari semut kecil seperti Riri.
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa dari atas dahan. Capung Jingga dan Belalang Sombo sedang lewat.
“Lihat! Si ulat sedang bercakap dengan semut kecil!” seru Capung sambil tertawa.
“Dua makhluk paling kecil di kebun berkumpul!”
Belalang menimpali:
“Mereka cocok! Sama-sama lemah dan membosankan!”
Namun, Riri tak menggubris. Ia berkata pelan:
“Abaikan saja mereka. Mereka belum tahu bahwa yang kecil bisa berarti besar, dan yang pelan bisa lebih tahan lama.”
Hira tertawa kecil, lalu berkata:
“Benar. Kadang, suara hati lebih bijak dari suara keras yang suka meremehkan.”
Setelah Capung dan Belalang pergi, Hira membantu Riri mengangkat sehelai kelopak bunga kering.
“Boleh aku bantu?” tanya Hira.
“Tentu saja!” jawab Riri senang.
Dan hari itu, Hira belajar bahwa kerja keras, kebersamaan, dan semangat membantu adalah hal yang lebih indah daripada sekadar pamer kekuatan. Ia belajar bahwa menjadi kecil bukan berarti tak berguna dan bahwa persahabatan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari seekor semut kecil.
=================================================================
Garahan, 16 Juli 2025 / Rabu, 20 Muharram 1447 H, 12.01 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
