Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.510a)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.510a)

Bab 9: Ketika Hujan Turun Lagi

Langit pagi tampak kelabu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang khas. Daun-daun bergerak sedikit gelisah, dan burung-burung tampak lebih tenang di sarangnya. Hira, si ulat kecil, mengangkat kepalanya ke langit.

“Sepertinya… hujan akan turun lagi,” gumamnya pelan.

Ia sedang duduk di tepi daun besar, berbincang santai dengan Lala, si bunga ceria. Semut kecil Riri juga datang sambil membawa potongan bunga kering yang akan ia simpan di sarangnya.

“Aku suka hujan,” kata Lala riang.

“Tetesannya seperti lagu. Tapi… aku harus hati-hati. Jangan sampai kelopak bungaku rusak.”

“Dan aku harus segera kembali ke sarang,” kata Riri cepat.

“Kalau terlambat, aliran air bisa menyeretku!”

Hira menatap mereka dengan tenang. “Aku juga akan mencari tempat berteduh. Tapi aku ingin memastikan kalian semua aman lebih dulu.”

Lala tersenyum.

“Kau memang selalu begitu, Hira. Meski kecil, hatimu selalu lebih dulu memikirkan orang lain.”

Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, petir menggelegar dari kejauhan. Langit semakin gelap. Angin bertiup lebih kencang. Tetes hujan mulai turun satu per satu, membasahi daun-daun dan tanah.

“Cepat, ke bawah daun itu!” seru Hira sambil merayap ke arah tempat teduh.

Riri langsung berlari ke arah semak dengan lincah. Sementara Lala tetap di tempatnya, menggoyang-goyangkan kelopaknya agar air tak terlalu banyak menempel.

Namun tiba-tiba, angin besar datang mendorong daun tempat Lala tumbuh. Batangnya bergoyang kuat, hampir patah.

“Aaaaa! Tolooong!” teriak Lala panik.

Hira yang sudah setengah basah langsung bergerak naik ke arah batang Lala.

“Pegang erat, Lala! Aku di sini!” seru Hira, meski tubuhnya hampir terseret angin.

Lala menggenggam tanah di sekeliling akarnya dengan kuat. Hira merayap ke batang bunga itu dan berdiri di dekatnya, menempelkan tubuhnya sebagai penahan dari terpaan angin.

“Jangan takut… kita lewati ini bersama,” bisik Hira.

Hujan makin deras. Air mengalir di sepanjang batang. Tanah mulai longsor sedikit demi sedikit. Tapi Lala bertahan. Dan Hira tetap menempel erat di batangnya, tidak bergeming meski tubuhnya menggigil kedinginan.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, angin mulai melemah. Hujan perlahan reda. Tetes air berhenti menari, menyisakan cipratan bening di seluruh permukaan daun dan bunga.

Hira membuka matanya. Ia masih di tempatnya. Lala juga.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hira pelan.

Lala mengangguk, walau kelopaknya sedikit sobek:

“Aku... aku baik. Dan itu semua karena kamu.”

Tak lama, Riri datang berlari dari balik semak:

“Kalian selamat! Aku khawatir sekali!”

“Kita baik,” jawab Hira dengan senyum letih:

“Tapi Lala butuh istirahat. Batangnya sempat terayun sangat keras.”

Riri segera memeriksa sekeliling:

“Aku akan bawa potongan daun untuk mengganjal batangnya agar tak miring.”

Mereka bertiga bekerja bersama. Riri mencari potongan kecil daun dan ranting. Hira membantu menekan sisi batang Lala agar tetap seimbang. Lala sendiri tetap tersenyum meski tubuhnya lelah.

Hari itu, hujan bukan hanya membawa air dari langit. Ia juga membawa rasa peduli, kerja sama, dan bukti bahwa persahabatan bisa menguatkan siapa pun di saat sulit.

Ketika matahari sore mulai muncul kembali dari balik awan, Hira duduk di samping Lala yang mulai mengering. Riri bersandar di sepotong batu, menikmati angin lembut pascahujan.

“Aku tak pernah menyangka,” kata Lala:

“bahwa seekor ulat kecil bisa menjadi pahlawan untukku.”

Hira tersenyum:

“Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan.”

Dan di balik daun-daun yang berkilau karena sisa hujan, langit tampak lebih cerah dari sebelumnya. Hira tahu, badai bisa datang kapan saja. Tapi bersama teman-teman yang baik, ia tak perlu takut menghadapinya.

=============================================================================================

Garahan, 18 Juli 2025 / Jum'at Legi, 22 Muharram 1447 H, 17.47 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post