Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.515)
Beberapa hari setelah menemukan surat di ujung daun, Hira mulai merasa sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Bukan sakit. Bukan lelah. Tapi ada rasa... berubah.
Ia masih makan daun seperti biasa, masih menyapa Lala dan Riri setiap pagi, dan masih tidur di balik daun yang sama. Tapi kini, tiap kali ia menggeliat atau berjalan, tubuhnya terasa berat. Kadang ia merasa ingin diam lebih lama, seperti ada dorongan dari dalam yang mengatakan, “Istirahatlah.”
“Tubuhku aneh,” bisik Hira suatu pagi.
“Seperti sedang menyiapkan sesuatu.”
Riri yang sedang membawa potongan daun, menoleh cepat:
“Kau tidak sakit, kan?”
Hira menggeleng pelan:
“Tidak. Tapi aku merasa... aku bukan Hira yang sama seperti seminggu lalu.”
Lala, yang mendengar itu dari balik batang, ikut bergoyang pelan:
“Kau terdengar seperti bunga sebelum mekar penuh. Kami juga merasakannya sebuah getaran lembut di dalam tubuh sebelum kelopak kami terbuka.”
Hira menatap batang tubuhnya sendiri. Kini warnanya mulai berubah sedikit. Lebih gelap di beberapa bagian. Di punggungnya, ada garis halus yang tak pernah ada sebelumnya.
Ia menghela napas panjang:
“Apakah ini... awal dari kepompong?”
Riri dan Lala saling berpandangan.
“Sepertinya begitu,” jawab Riri pelan.
“Aku tak tahu apakah aku siap,” lanjut Hira.
“Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku tidak bisa keluar nanti? Bagaimana jika aku bukan kupu-kupu yang indah?”
Lala bergoyang, mendekati Hira:
“Hira, kau tidak harus menjadi yang paling indah. Cukup menjadi dirimu. Karena siapa pun kamu nanti, kau tetap sahabat kami.”
Riri ikut berkata:
“Dan bukankah selama ini kamu sudah luar biasa? Kau sabar, kau tulus, dan kau mengajarkan kami melihat dunia lebih pelan tapi lebih dalam.”
Hira diam. Ia menatap langit yang hari itu cerah, seolah sedang memberi semangat. Di kejauhan, tampak beberapa kupu-kupu terbang beriringan. Hira membayangkan dirinya di antara mereka.
Namun… bayangan itu membuat jantungnya berdegup cepat.
Sore itu, saat angin mulai reda dan matahari bergeser ke barat, Hira duduk sendiri di balik ranting kecil. Ia mengamati dedaunan yang kini lebih banyak menguning. Musim mulai berganti. Waktunya semakin dekat.

Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari belakang.
“Hira,” ujar Lala.
“Aku ingin memberimu sesuatu.”
Dari kelopaknya yang lebar, Lala menjatuhkan sehelai kelopak bunga yang telah mengering tapi masih wangi. Bentuknya menyerupai selimut kecil.
“Letakkan ini di tempatmu nanti berdiam,” katanya.
“Agar kau merasa hangat dan tetap teringat bahwa kami ada untukmu.”
Riri juga datang membawa sehelai daun kecil yang dilipat. Di dalamnya ada biji kering mungil.
“Ini sebagai pengingat,” katanya.
“Kecil tapi kuat. Seperti kamu.”
Hira terharu. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi saat masuk ke dalam kepompong, tapi kini ia tahu: ia tidak sendiri.
Malam itu, Hira kembali tidur lebih awal dari biasanya. Ia merasa tubuhnya makin berat. Tapi hatinya ringan. Ia tahu, hari-hari terakhir sebagai ulat sudah dekat.
Dan di bawah cahaya bulan yang menggantung di langit, ia berbisik dalam hati:
“Aku takut. Tapi aku siap.”
===================================================================
Garahan, 23 Juli 2025 / Rabu Legi, 27 Muharram 1447 H, 07.32 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
