Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.517)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.517)

Bab 16: Dunia Tanpa Hira

Sudah tiga hari berlalu sejak Hira membungkus dirinya dalam kepompong. Di ujung ranting yang rindang, tubuh kecilnya kini tersembunyi dalam balutan benang-benang halus berwarna coklat keemasan. Tidak ada gerak. Tidak ada suara.

Namun, dunia di sekelilingnya tetap berjalan.

Pagi itu, Lala menengadah ke arah kepompong dari bawah kelopak bunganya. “Pagi, Hira,” bisiknya lembut.

“Matahari bersinar hangat hari ini. Kau pasti menyukainya.”

Riri si semut pun datang membawa potongan daun seperti biasa. Tapi kali ini, ia hanya meletakkannya di dekat tempat Hira dulu sering duduk. Tidak ada yang menyambut. Hanya angin yang menyapu perlahan.

“Kami merindukanmu, Hira,” kata Riri pelan.

Daun-daun berguguran lebih cepat sekarang. Musim mulai berganti. Tapi keheningan yang ditinggalkan Hira terasa seperti ruang kosong yang tak terganti. Bukan karena ia banyak bicaramHira memang tidak banyak bicara. Tapi karena setiap kata dan tindakannya selalu punya makna.

“Kau tahu, Lala,” kata Riri suatu siang.

“Aku dulu sering merasa paling sibuk dan paling cepat. Tapi sejak Hira masuk kepompong, aku jadi sadar... banyak hal indah yang kulewatkan hanya karena terlalu tergesa.”

Lala mengangguk:

“Hira mengajarkan kita untuk berhenti sebentar, melihat sekeliling, dan merasa cukup. Ia tak pernah iri. Ia tak pernah marah.”

Mereka terdiam sejenak.

Hari-hari berjalan seperti itu. Setiap pagi, mereka menyapa kepompong Hira. Setiap sore, mereka menceritakan hal-hal kecil yang mereka alami hari itu. Seolah Hira masih bisa mendengar, meskipun diam dalam keheningan.

Suatu hari, seekor kumbang tua lewat. Ia berhenti sejenak, menatap kepompong itu.

“Apa kalian yang menjaga ulat itu?” tanya sang kumbang.

“Iya,” jawab Lala. “Namanya Hira. Dia sahabat kami.”

Sang kumbang tersenyum, matanya berkedip perlahan. “Kalian beruntung. Tak semua makhluk punya sahabat yang sabar seperti dia.”

Kemudian, sang kumbang terbang pergi, meninggalkan dua sahabat kecil itu dalam hening yang hangat.

Hari mulai senja. Riri menatap langit yang perlahan berubah jingga.

“Aku tak sabar ingin melihat Hira keluar dari kepompongnya,” katanya.

“Aku juga,” balas Lala. “Tapi aku tahu, ia sedang bertumbuh menjadi dirinya yang baru. Kita hanya perlu menunggu.”

Malam itu, bintang-bintang terlihat lebih terang. Angin bertiup pelan seolah menjaga heningnya malam. Di ujung ranting itu, kepompong Hira bergoyang pelan tertiup angin. Diam, tenang, tapi penuh kehidupan yang sedang dipersiapkan.

Dan dalam keheningan itu, meskipun dunia seperti tanpa Hira, kehadirannya masih terasa di mana-mana:

Pada daun yang ia kunyah dengan sabar.

Pada ucapan-ucapan kecil yang penuh makna.

Pada perubahan dalam hati sahabat-sahabatnya.

Hira memang tak terlihat, tapi ia tak pernah benar-benar pergi.

================================================================

Garahan, 25 Juli 2025 / Jum'at Pon, 29 Muharram 1447 H, 21.49 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post