Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.519)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.519)

Bab 18: Sayap yang Belajar Terbang

Hira melayang rendah di atas bunga-bunga. Sayap barunya masih terasa asing, namun lembut dan ringan. Angin membelai tubuhnya pelan, membawa aroma tanah basah dan nektar pagi.

Ia menoleh ke arah Riri dan Lala yang mengikutinya dari bawah, berlari-lari kecil di antara batang dan daun.

"Bagaimana rasanya terbang?" teriak Lala dari bawah.

"Seperti mimpi," jawab Hira.

"Seperti aku sedang memeluk langit."

Tapi meskipun terlihat mudah, terbang bukan hal yang langsung dikuasai. Beberapa kali Hira terhuyung oleh hembusan angin. Kadang sayapnya menabrak ranting kecil, atau gerakannya terlalu cepat dan ia hampir kehilangan kendali.

“Waspada, Hira!” seru burung pipit yang terbang mendekat.

“Sayapmu perlu waktu untuk kuat. Jangan paksa dirimu terlalu tinggi.”

Hira mengangguk, menyesuaikan sayapnya.

“Terima kasih, Kak Pipit. Aku masih belajar.”

Burung pipit tersenyum:

“Begitulah hidup, Hira. Bahkan setelah perubahan, kita masih harus belajar memahami diri kita yang baru.”

Setelah beberapa kali latihan, Hira mulai mengerti kapan harus mengepak cepat, kapan harus melayang pelan. Ia mencoba mendarat di ranting terlalu cepat! Ia terpeleset dan jatuh ke daun pisang di bawahnya.

“Ups!” serunya sambil tertawa kecil.

Dari bawah, Lala dan Riri ikut tertawa:

“Jangan khawatir, jatuh itu bagian dari belajar,” kata Riri.

Sang siput tua yang memperhatikan dari balik batu ikut berkomentar:

“Bahkan aku, dengan kecepatan lambatku, kadang terjatuh. Tapi aku tak pernah berhenti melangkah.”

Hira tersenyum. Ia bangkit, terbang lagi, kali ini lebih pelan. Ia merasa nyaman, damai. Udara terasa seperti pelukan hangat yang membantunya naik sedikit demi sedikit.

Saat ia kembali ke tanah, Lala memeluknya erat:

“Aku bangga padamu,” katanya dengan mata berkaca.

“Terima kasih telah menungguku,” kata Hira.

“Bukan menunggu,” jawab Riri,

“Kami percaya padamu. Itu berbeda.”

Hari itu, Hira belajar bahwa menjadi kupu-kupu bukan berarti segalanya langsung sempurna. Tapi dengan sahabat, keberanian, dan ketulusan, setiap langkah atau kepakan pasti membawa ke arah yang lebih baik.

================================================================

Garahan, 27 Juli 2025 / Ahad Kliwon, 01 Safar 1447 H, 08.17 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post