Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.520)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.520)

Bab 19: Warna yang Menyembuhkan

Pagi itu, taman kembali cerah. Embun menetes dari ujung-ujung daun seperti kristal kecil, dan matahari memancarkan sinarnya yang hangat dari balik langit jingga. Di tengah keindahan itu, tampak Hira mengepakkan sayapnya dengan anggun, terbang rendah di atas padang bunga liar.

Sayapnya yang berwarna hijau keemasan dengan dengan bintik emas tampak berkilau di bawah cahaya matahari. Keindahan itu tak hanya memukau siapa pun yang melihatnya, tapi juga membawa kedamaian yang sulit dijelaskan.

“Hira! Lihat! Bunga-bunga yang sempat layu kini mekar kembali!” seru Lala si kelinci kecil, menunjuk sekuntum bunga matahari yang berdiri tegak.

“Dan lebah-lebah pun kembali berdengung!” tambah Riri, matanya berbinar senang.

Tanpa disadari Hira, keberadaannya mulai membawa perubahan. Warna-warni di sayapnya yang sering bersentuhan dengan bunga ternyata mengandung serbuk-serbuk ajaib yang membantu menyuburkan kelopak. Dimana pun ia hinggap, bunga menjadi lebih cerah, daun menjadi lebih segar, dan aroma taman menjadi lebih semerbak.

Makhluk-makhluk kecil di taman pun merasa damai ketika melihat Hira. Suara-suara gaduh yang biasa terdengar di antara semut dan kumbang perlahan hilang. Mereka lebih tenang, lebih ramah satu sama lain.

“Entah kenapa, kalau melihatmu terbang, rasanya ingin tersenyum terus,” ucap seekor kumbang kecil.

“Aku juga merasa lebih semangat mencari nektar,” timpal lebah pekerja.

Hira sempat merasa heran:

“Aku tak sadar kalau warna sayapku bisa seperti ini…”

Kemudian datanglah Nenek Kupu-Kupu, yang dulunya juga pernah menjadi ulat sabar seperti Hira.

“Itu adalah anugerah dari kesabaranmu, Hira,” kata Nenek lembut.

“Warna-warni di sayapmu bukan sekadar keindahan, tapi hasil dari ketulusan hatimu yang tak pernah mengeluh meski harus menunggu lama.”

Hira menunduk haru. Ia mengingat kembali hari-hari saat ia hanya seekor ulat kecil yang bergerak lambat, sering ditertawakan, bahkan diabaikan. Namun, ia tetap sabar, tetap percaya.

Kini, kesabaran itu berbuah bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk taman yang ia cintai.

“Kadang kita tak tahu,” lanjut Nenek,

“bahwa perjuangan yang kita lalui diam-diam menyiapkan kita untuk menjadi cahaya bagi yang lain.”

Hira menatap sayapnya. Ia tersenyum, bukan karena ia kini indah, tapi karena ia akhirnya bisa menjadi manfaat.

Sejak hari itu, Hira terbang setiap pagi, berkeliling taman, menyentuh bunga, menyapa semut, mengajak kumbang bermain, dan memberikan semangat pada siapa pun yang sedang murung.

Bagi semua penghuni taman, Hira bukan sekadar kupu-kupu cantik. Ia adalah simbol harapan, lambang bahwa kesabaran dan kebaikan hati akan selalu menemukan jalannya untuk menyembuhkan dan menguatkan.

=================================================================

Garahan, 28 Juli 2025 / Senin Legi, 02 Safar 1447 H, 07.44 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post