Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.523)

Hira, Si Ulat kecil yang sabar (T.523)

Bab 21: Pertemuan yang Tak Diduga

Hari itu, langit cerah tanpa awan. Hira sedang beristirahat di atas bunga matahari yang sedang mekar. Ia menatap ke kejauhan, memikirkan banyak hal tentang perjalanannya sebagai ulat kecil dulu, perjuangannya dalam kepompong, dan kebahagiaannya sekarang sebagai kupu-kupu.

Tiba-tiba, suara lirih terdengar dari balik semak-semak.

“Hira… apakah itu kamu?”

Hira menoleh dengan cepat. Suara itu asing namun terasa akrab. Dari balik dedaunan, muncullah seekor ulat kecil dengan warna hijau pucat dan mata yang tampak redup. Tubuhnya tampak lemah, dan ia berjalan perlahan.

“Namaku Limo…” katanya pelan.

“Aku... dengar tentangmu dari semut-semut di ujung taman. Katanya kau adalah kupu-kupu yang sabar dan bijaksana.”

Hira turun mendekatinya dengan lembut.

“Halo, Limo. Aku senang kau mencariku. Tapi kenapa kamu terlihat lelah?”

Limo menghela napas:

“Aku merasa tak berguna. Aku lelah menjadi ulat. Semua menertawaiku karena tubuhku yang kecil dan warna kulitku yang kusam. Aku mencoba mencari tempat untuk bersembunyi, tapi selalu diusir. Aku tidak tahu harus ke mana.”

Mendengar kisah itu, hati Hira teriris. Ia seperti melihat bayangannya sendiri di masa lalu. Ia mendekat dan memeluk Limo dengan sayap lembutnya.

“Limo... aku juga dulu merasa seperti itu. Aku juga pernah ditertawakan dan dianggap lambat. Tapi aku belajar sesuatu yang sangat penting.”

“Apa itu?” tanya Limo dengan mata berkaca-kaca.

“Bahwa setiap ulat punya waktu dan caranya sendiri untuk berubah. Kau mungkin belum menjadi kupu-kupu sekarang, tapi bukan berarti kau tidak bisa. Yang kau butuhkan adalah waktu, kesabaran, dan sedikit harapan.”

Limo menunduk, air matanya menetes ke tanah:

“Tapi bagaimana jika aku tidak cukup kuat?”

Hira mengangkat kepalanya:

“Kekuatan tidak selalu tentang tubuh. Kadang, kekuatan terbesar adalah saat kita terus melangkah meski ingin menyerah.”

Riri si semut dan Lala si kelinci datang menghampiri, membawa daun-daun segar dan air dari embun pagi.

“Kami dengar ada tamu baru,” kata Riri sambil tersenyum.

“Limo, kamu bisa tinggal bersama kami. Di sini, tidak ada yang diusir.”

Limo memandangi mereka dengan terharu.

“Kalian... benar-benar tidak keberatan?”

“Tidak sama sekali,” kata Lala.

“Kita semua dulu pernah merasa seperti kamu. Tapi kita belajar bersama bahwa taman ini cukup luas untuk semua makhluk, sekecil apapun mereka.”

Hari itu menjadi awal yang baru bagi Limo. Ia diberi tempat berlindung di bawah dedaunan hangat, makanan yang cukup, dan lebih dari segalanya: persahabatan.

Dan Hira? Ia merasa tugasnya belum selesai. Jika dulu ia belajar untuk bertahan, kini ia belajar untuk membimbing. Ia tahu, akan ada banyak Limo-Limo lain di luar sana yang menunggu pelukan pertama mereka pelukan yang bisa mengubah hidup.

Senja hari itu ditutup dengan suara tawa kecil dan nyanyian lembut angin di antara dedaunan. Dunia ini, ternyata, menjadi tempat yang lebih indah saat makhluk-makhluk kecil saling menguatkan.

=================================================================

Garahan, 30 Juli 2025 / Rabu, 04 Safar 1447 H, 07.20 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post