Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hira, Si Ulat kecil yang Sabar (T.524)

Hira, Si Ulat kecil yang Sabar (T.524)

Bab 22: Sayap untuk Limo

Beberapa minggu telah berlalu sejak Limo tinggal bersama Hira dan teman-teman lainnya di taman bunga. Tubuh kecilnya mulai terlihat lebih segar, dan semangatnya perlahan tumbuh kembali. Ia tidak lagi menyendiri atau menangis di sudut daun. Setiap pagi, ia ikut bermain bersama Riri si semut, Lala si kelinci, dan tentu saja Hira, kupu-kupu yang kini menjadi panutannya.

Namun hari itu, Limo duduk termenung di atas sehelai daun pisang. Matanya menatap ke langit yang cerah. Ada kupu-kupu lain beterbangan di antara bunga-bunga.

“Aku ingin terbang seperti mereka,” gumamnya pelan.

Hira yang kebetulan lewat, mendengar suara hati kecil Limo. Ia mendarat di sampingnya dan tersenyum.

“Limo, kamu tahu... aku dulu juga duduk di sini, memandangi langit dengan perasaan yang sama,” kata Hira lembut.

Limo menoleh:“Tapi... kapan aku bisa berubah? Kenapa aku belum juga masuk kepompong seperti ulat-ulat lain?”

Hira menatap mata kecil Limo dengan penuh kasih:

“Karena setiap ulat punya waktunya masing-masing. Tidak ada yang terlambat. Alam tahu kapan waktunya kamu siap. Tapi untuk itu, kamu harus percaya pada dirimu sendiri.”

Limo mengangguk, meskipun hatinya masih bimbang.

Beberapa hari kemudian, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Awan mendung menggantung di langit. Sebagian besar serangga dan hewan kecil mulai mencari perlindungan. Hira tahu, cuaca ini tidak bersahabat untuk tubuh rapuh seekor ulat kecil seperti Limo.

“Kamu harus segera mencari tempat untuk membangun kepompong,” kata Hira tegas namun tenang.

“Tapi aku belum siap…” gumam Limo.

“Kepompong bukan hanya tentang siap atau tidak siap, tapi tentang keberanian untuk percaya bahwa kamu bisa berubah. Kamu sudah cukup kuat, Limo. Aku tahu itu,” jawab Hira sambil mengepakkan sayapnya.

Dengan bantuan Riri dan Lala, mereka membawa Limo ke cabang pohon yang terlindung dari hujan. Lala menyiapkan daun-daun kering untuk alas. Riri menjaga dari gangguan semut merah yang suka usil.

Limo menggigit batang kecil dan mulai memintal benang dari dalam tubuhnya. Perlahan tapi pasti, tubuh mungilnya membungkus diri dalam lapisan lembut. Hira mengamati dari dekat, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, ini adalah awal baru bagi sahabat kecilnya.

Saat akhirnya kepompong itu terbentuk sempurna, Riri berkata pelan:

“Apa Limo akan baik-baik saja di dalam sana?”

“Ya,” jawab Hira dengan yakin.

“Dia sudah menemukan keyakinannya sendiri. Dan itu adalah sayap pertamanya, bahkan sebelum dia terbang.”

Hari berganti hari. Angin kencang datang dan pergi. Hujan turun lalu reda. Namun kepompong Limo tetap bertahan. Kuat. Tenang. Dan diam-diam, ada perubahan yang terjadi di dalamnya.

Hira sering datang setiap pagi untuk menyapa. Ia bicara meskipun tahu Limo tak bisa menjawab.

“Limo, dunia menantimu. Sayapmu sedang tumbuh. Dan ketika waktunya tiba, aku akan di sini… menunggumu terbang.”

=================================================================

 

Garahan, 31 Juli 2025 / Kamis Wage, 05 Safar 1447 H, 07.28 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post