Hira, Si Ulat yang sabar (T.503)
Keesokan paginya, cahaya matahari mengintip malu-malu dari balik dedaunan. Embun masih menempel di ujung rumput dan bunga. Suara burung kecil mulai terdengar dari ranting pohon mangga yang menaungi kebun. Di balik daun lebar yang menggelantung rendah, Hira menggeliat pelan.
“Hmmm… pagi yang damai,” bisik Hira sambil membuka matanya perlahan.
Ia menengok ke kiri dan ke kanan, mengamati dedaunan yang tampak segar dan menggoda. Perutnya pun mulai berbunyi. Sudah waktunya mencari sarapan pagi yang enak. Hira perlahan merayap menuruni ranting kecil, mencari daun yang paling lezat dan segar.
Tak lama, matanya tertuju pada sebuah daun mangga muda yang bentuknya besar dan warnanya hijau terang. Daun itu tampak berbeda dari yang lain bersih, mengilap, dan menggoda. Hira mendekatinya perlahan, lalu mencium aromanya.
“Wah… ini pasti daun terenak yang pernah kulihat!” serunya senang.
Dengan penuh semangat, ia pun mulai menggigit ujung daun. Rasanya lembut, sedikit manis, dan sangat segar.

“Nyam… nyam… ini luar biasa! Daun ini seperti hadiah dari langit!” gumam Hira sambil terus mengunyah perlahan.
Saking asyiknya makan, Hira tak menyadari bahwa dari balik semak, Kumbang Hitam dan Capung Jingga sedang mengamatinya.
“Hei, lihat itu,” bisik Capung Jingga.
“Si ulat kecil itu makan daun terbaik di kebun!”
“Daun itu seharusnya untuk serangga penting seperti kita,” ujar Kumbang Hitam dengan kesal.
Mereka pun terbang mendekati Hira dengan wajah cemberut.
“Hira! Jangan serakah!” bentak Kumbang.
“Daun itu bukan hanya untukmu!”
Hira terkejut. Ia menoleh dengan pelan.
“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau daun ini milik siapa. Aku hanya makan sedikit saja, kok.”
Capung melayang-layang di atasnya.
“Daun seperti itu harusnya disimpan untuk serangga yang cepat, kuat, dan berguna. Bukan untuk ulat lambat sepertimu!”
Hira menarik tubuhnya mundur. Ia tidak ingin bertengkar. Ia hanya ingin sarapan dalam damai.
“Aku akan pindah,” kata Hira lembut.
“Maaf kalau aku mengganggu kalian.”
Dengan hati-hati, ia merayap menjauh dari daun itu. Ia menahan rasa laparnya, dan mencari daun biasa yang kecil di sisi semak. Ia makan perlahan, meski rasanya tak seenak daun tadi.

Tak jauh dari sana, Bunga Lila melihat semuanya. Ia mengangguk bangga melihat sikap sabar Hira.
“Engkau memang kecil, Hira,” kata Bunga Lila,
“Tapi hatimu lebih besar dari siapa pun di kebun ini.”
Hira tersenyum malu-malu:
“Aku hanya tidak ingin menyakiti hati siapa pun. Lagipula, daun ini juga cukup enak kok,” katanya sambil menggigit lagi.
Tak lama kemudian, seekor lebah kecil datang terbang ke arah Hira. Ia membawa setetes nektar dalam kakinya.
“Hai, Hira!” sapa Lebah itu.
“Aku melihat apa yang terjadi. Kau baik sekali.”
“Terima kasih, Lebah. Aku hanya ingin damai,” jawab Hira.
Lebah lalu meneteskan sedikit nektar ke atas daun yang dimakan Hira:
“Ini untukmu. Rasanya manis, seperti madu.”
Hira mencicipi daun itu lagi. Sekarang rasanya berbeda. Sedikit rasa manis menempel di lidahnya.
“Wah, enak sekali! Terima kasih, Lebah,” ujar Hira dengan senyum lebar.
Hari itu, Hira belajar bahwa daun yang sederhana bisa terasa luar biasa jika dimakan dengan hati yang tenang dan bersyukur.
Dan meski ia kehilangan daun yang paling lezat, ia mendapatkan rasa manis dari kebaikan teman sejati.
==================================================================
Garahan, 11 Juli 2025 / Jum'at Wage, 15 Muharram 1447 H, 08.36 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
