Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Panen Raya Kopi Robusta di Garahan, Harapan di Tengah Keterbatasan (T.501a)

Panen Raya Kopi Robusta di Garahan, Harapan di Tengah Keterbatasan (T.501a)

Desa Garahan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, kembali memasuki musim yang paling dinanti oleh sebagian besar warganya: panen raya kopi robusta. Suasana pagi berubah menjadi semarak dengan suara deru sepeda motor yang berlalu-lalang di jalan desa. Mereka mengangkut para pemetik kopi menuju kebun-kebun yang terhampar luas di kaki Gunung Raung. Inilah momen tahunan yang tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga menghidupkan semangat kolektif warga desa.

Sebagian besar lahan kopi yang dikelola warga Garahan berada dalam kawasan hutan produksi milik Perhutani. Masyarakat setempat menyebut lahan-lahan ini sebagai “Tetelan” atau “Konteran”, yaitu area yang diperbolehkan untuk ditanami tanaman sela seperti kopi, tanpa merusak pohon pinus yang menjadi penyangga utama hutan. Sistem ini menjadi wujud dari kearifan lokal masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara lestari dan harmonis.

Yang menarik, selama musim panen, terjadi pergeseran profesi sementara. Banyak tukang bangunan atau pekerja serabutan lainnya memilih turun ke kebun menjadi pemetik kopi. Hal ini bukan tanpa alasan—upah memetik kopi cukup tinggi dan dianggap lebih menjanjikan dalam waktu singkat. Dalam satu hari kerja, mereka bisa mengumpulkan beberapa karung kopi, tergantung hasil pohon dan luas lahan.

Memasuki waktu adzan Dhuhur, lalu lintas di jalan desa kembali ramai. Kali ini, motor-motor membawa karung-karung kopi segar menuju rumah pemilik lahan. Sebagian pemetik kembali lebih awal, namun banyak pula yang bertahan hingga sore demi memaksimalkan hasil petikan. Pemandangan ini menjadi rutinitas khas musim panen di desa kami.

Namun, kegiatan memetik hanyalah awal dari rangkaian panjang proses kopi. Setelah itu, para petani akan menjemur, menggiling, hingga menyortir biji kopi secara mandiri. Hampir di setiap halaman rumah, terlihat terpal atau anyaman bambu sebagai alas penjemuran. Mesin penggiling kopi sederhana juga mulai berbunyi di berbagai sudut kampung. Ini adalah potret kegigihan warga Garahan: berpeluh di bawah matahari demi hasil yang layak.

Namun demikian, di balik semangat panen ini, tersimpan kegelisahan mendalam. Harga kopi robusta di tingkat petani saat ini hanya berkisar Rp50.000 per kilogram angka yang terbilang rendah jika dibandingkan dengan tenaga, biaya, dan waktu yang dicurahkan. Ironisnya, petani tidak memiliki kewenangan menentukan harga jual. Penetapan harga justru ditentukan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bersentuhan langsung dengan lahan, hanya duduk di balik meja dan berdasi.

Kondisi ini menyulut kekecewaan. Beberapa waktu lalu, jagat media sosial dihebohkan oleh video seorang petani yang menebang seluruh pohon kopinya karena frustasi terhadap harga yang terus menurun. Ini bukan hanya bentuk protes ekstrem, tetapi cermin dari ketimpangan dalam rantai distribusi hasil pertanian. Petani sebagai produsen utama justru menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan.

Sudah saatnya negara dan para pengambil kebijakan hadir secara nyata di sisi petani. Harus ada mekanisme harga yang adil, sistem distribusi yang berpihak, serta perlindungan terhadap petani sebagai pilar utama ekonomi desa. Harga kopi tidak seharusnya dimonopoli oleh tengkulak atau pengepul besar, apalagi oleh lembaga yang tak memiliki satu pohon pun di kebun kopi.

Kopi bukan sekadar komoditas. Bagi warga Garahan dan desa-desa di sekitarnya, kopi adalah sumber kehidupan, identitas budaya, dan pengikat sosial. Setiap biji kopi yang dipanen adalah bukti nyata bahwa desa memiliki kekuatan. Maka, jangan biarkan hasil kerja keras itu terkubur oleh ketidakadilan harga dan sistem pasar yang timpang.

Panen raya kopi tahun ini hendaknya menjadi momentum evaluasi bersama. Di tengah aroma kopi yang harum dan semangat warga yang menyala, ada harapan agar ke depan, petani tidak hanya memanen buahnya, tetapi juga hasil yang sepadan dengan kerja kerasnya.

================================================================

Garahan, 09 Juli 2025 / Rabu Pahing, 13 Muharram 1447 H, 20.48 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post