Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Penutupan Jalan Gunung Gumitir Jalan Tua yang Butuh Istirahat Sejenak (T.516)

Penutupan Jalan Gunung Gumitir Jalan Tua yang Butuh Istirahat Sejenak (T.516)

Garahan, Jember – Kamis dini hari, tepat pukul 00.00 WIB, menjadi momen bersejarah bagi Jalan Raya Gunung Gumitir. Untuk pertama kalinya sejak jalur ini dibangun pada tahun 1902 oleh pemerintahan kolonial Belanda, jalan ini ditutup total selama dua bulan penuh. Mungkin, setelah lebih dari seabad menopang mobilitas ribuan kendaraan setiap hari, Gunung Gumitir kini butuh “pijatan mesra” dan istirahat sejenak untuk memperbaiki dirinya.

Penutupan ini dilakukan secara resmi dan serentak dari dua arah. Dari sisi Jember, pengamanan dan penyekatan dilakukan oleh Polres Jember di kawasan Garahan. Sementara dari arah Banyuwangi, penutupan dilakukan di Jembatan Timbang Kalibaru dengan pengawasan aparat gabungan. Jalan strategis yang menjadi tulang punggung penghubung Surabaya–Banyuwangi ini untuk sementara waktu tidak dapat dilalui kendaraan roda empat atau lebih, kecuali sepeda motor dan kendaraan darurat.

Penutupan ini membawa dampak besar, terutama bagi aktivitas ekonomi antarwilayah. Jalan Gunung Gumitir selama ini dikenal sebagai jalur tercepat dan terpadat dalam mobilitas logistik, wisatawan, hingga kendaraan antarprovinsi. Dengan ditutupnya jalur ini, arus kendaraan berat terpaksa dialihkan melalui jalur pantai utara Situbondo. Hal ini menyebabkan kepadatan parah di sepanjang rute Pelabuhan Ketapang hingga Taman Nasional Baluran, Situbondo. Truk-truk logistik dan kontainer menumpuk, menambah beban jalan alternatif yang memang tidak dirancang untuk volume kendaraan sebesar itu.

Dampak nyata juga sangat dirasakan oleh masyarakat Garahan sendiri. Warung-warung nasi pincuk yang biasanya ramai dikunjungi para sopir dan pelintas jalur Gumitir kini terlihat sepi. Bahkan beberapa pemilik warung terpaksa menutup usahanya sementara waktu karena tak ada pelanggan. Penurunan aktivitas ekonomi ini menambah beban masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan pendapatan dari lalu lintas jalan raya.

Namun, di balik sunyinya jalan raya, pagi pertama setelah penutupan memberikan suasana berbeda. Akses menuju madrasah, yang biasanya padat merayap di sekitar Pasar Kemisan, kini terasa lengang dan nyaman. Hanya sepeda motor yang lalu lalang, mayoritas adalah warga lokal yang hendak ke ladang atau ke sekolah.

Menariknya, aktivitas masyarakat Garahan justru meningkat dari sisi lain. Seiring datangnya musim panen raya kopi, ratusan pemetik kopi memadati jalur desa dengan sepeda motor. Pemandangan ini memberikan warna tersendiri di tengah lengangnya jalan utama. Masyarakat tetap bergerak, bekerja, dan merayakan hasil bumi mereka.

Selain itu, dampak positif juga terasa pada kualitas udara. Dengan menurunnya jumlah kendaraan bermotor besar, polusi udara di kawasan Gunung Gumitir dan Garahan berkurang drastis. Suasana menjadi lebih sejuk, tenang, dan alami seolah-olah Gunung Gumitir memang sedang menikmati masa rehatnya.

Pemerintah daerah dan pihak kepolisian terus mengimbau warga untuk mematuhi pengalihan arus dan bersabar. Semoga dengan istirahat ini, Gunung Gumitir bisa kembali menjadi jalur andalan yang lebih aman, nyaman, dan siap menopang perjalanan panjang Indonesia Timur.

=================================================================

Garahan, 24 Juli 2025b / Kamis Pahing, 28 Muharram 1447, 08.33 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post