Sepenggal cerita Bujuk Mellas (T.519a)
Alhamdulillah, saya diberi kesempatan menghadiri acara Haul Syarifah Fatimah yang ke-8 atau lebih populernya Bujuk Melas. Makam Bujuk mellas berada di dusun Sepuran Sumberjati Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Posisi makam tersebut berada ditengah-tengah hutan pinus jauh dari keramaian. Untuk menghadiri makam bujuk mellas, saya harus melewati hutan pinus yang baru ditanam, ditebang dan ada yang sudah puluhan tahun umurnya. Jalan tanah tidak ada jalan aspal atau paving, rata semua tanah yang berpasir. Ada sebagian jalan yang dipasangi batu. Haul kali ini dihadiri beberapa Kyai yang mempunyai nasab dengan Bujuk Mellas atau keluarganya. Haul kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ada sekitar 1.000 orang yang hadir biasanya para peziarah lebih dari 1.000 orang. Nyaris tanpa kebisingan ketika acara pembacaan Surat Yasin dan Tahlil berkumandang, Khusyuk tanpa tanding semua peziarah hingga selesai pada pukul 11.00 WIB.
Sepintas saya akan menceritakan siapa sebenarnya Syarifah Fatimah atau Bujuk Mellas itu. Di sebuah sudut sunyi Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, terdapat makam keramat yang dihormati oleh masyarakat sekitar, dikenal dengan sebutan Bujuk Mellas. Di balik nama itu tersimpan kisah pengorbanan dan keteguhan hati seorang perempuan mulia bernama Syarifah Fatimah, istri dari seorang ulama besar Madura, Kyai Abdul Akhir.
Syarifah Fatimah dikenal sebagai sosok istri yang sholihah dan setia. Ia hidup dalam kedamaian bersama suaminya hingga suatu ketika datang cobaan besar: kecantikannya menarik perhatian seorang bangsawan, yang kemudian ingin meminangnya sebagai istri. Syarifah Fatimah sangat terpukul, karena ia masih bersuami dan sangat menjunjung tinggi kesucian rumah tangganya. Demi menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya, ia mengambil keputusan besar meninggalkan rumahnya.
Dengan penuh keikhlasan, Syarifah Fatimah meminta izin kepada suaminya, Kyai Abdul Akhir, untuk pergi dari Madura. Sang kyai, dengan kebijaksanaan dan kasih sayangnya, mengizinkan kepergian istrinya, dengan satu syarat: ia harus mencari tempat yang sunyi di hutan Pulau Jawa untuk menetap.
Dengan diiringi dua orang penjaga dan dua ekor kuda, Syarifah Fatimah memulai perjalanan jauh meninggalkan segala kenyamanan dan hartanya. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan berat, ia tiba di sebuah hutan lebat yang masih sunyi, yaitu di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sumberjati, Silo, Jember.
Di hutan itu, Syarifah Fatimah menjalani hidup dalam keterasingan, hanya ditemani para penjaganya. Ia hidup dalam ibadah, kesederhanaan, dan menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Sampai akhir hayatnya, ia menetap di sana. Karena pengorbanannya, masyarakat menghormatinya dan menyebut makamnya dengan nama Bujuk Mellas.
Secara etimologis, kata “Bujuk” berasal dari bahasa Madura yang berarti nenek moyang atau leluhur, sedangkan “Mellas” berarti sedih atau hidup dalam keterasingan. Maka, Bujuk Mellas adalah penghormatan kepada seorang leluhur perempuan yang hidup dalam pengasingan demi menjaga kehormatan dan martabat keluarganya.
Kini, makam Bujuk Mellas menjadi tempat ziarah spiritual bagi masyarakat sekitar, simbol pengorbanan seorang wanita salehah, dan warisan budaya yang penuh makna bagi generasi penerus.
=================================================================
Garahan, 27 Juli 2025 / Ahad Kliwon, 01 Safar 1447 H, 19.22 WIB



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
