Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 10 Janji Buah Manis (T.541)

Bab 10 Janji Buah Manis (T.541)

 

Keesokan paginya, udara gurun terasa lebih sejuk dari biasanya. Matahari baru saja muncul dari balik bukit pasir, memancarkan sinar lembut yang belum terlalu menyengat. Ibu mengajak Unta Kecil kembali berjalan menuju arah oase tetapi kali ini, mereka mengambil rute yang melewati kebun kurma Pak Karim.

Unta Kecil terkejut:

“Bu, kita mau ke kebun kurma?” tanyanya, matanya langsung berbinar.

Ibu tersenyum:

“Ya. Ingat kemarin? Pak Karim akan memetik kurmanya hari ini. Kita bisa mampir untuk menyapa.”

Hati Unta Kecil berdebar gembira. Sesampainya di kebun, ia melihat Pak Karim sedang memanjat pohon dengan cekatan. Keranjang-keranjang besar sudah terisi penuh kurma segar. Bau manisnya memenuhi udara, membuat perut Unta Kecil langsung berbunyi pelan.

“Selamat pagi, Pak Karim!” sapa Ibu dengan ramah.

“Selamat pagi, Ibu Unta, Unta Kecil!” jawab Pak Karim sambil turun dari pohon. Ia tersenyum lebar:

“Kalian datang tepat waktu. Hari ini panen besar.”

Unta Kecil menelan ludah:

“Pak… kurmanya kelihatan enak sekali…” katanya jujur.

Pak Karim tertawa:

“Tentu saja. Ini hasil dari berbulan-bulan merawat dan menunggu. Pohon kurma tak bisa dipaksa cepat. Semuanya butuh waktu.”

Ibu melirik Unta Kecil, seolah berkata, dengar baik-baik.

Tanpa ragu, Pak Karim mengambil beberapa buah kurma yang matang sempurna, lalu memberikannya kepada Unta Kecil:

“Ini untukmu, karena kemarin kamu tidak memetiknya sebelum waktunya. Ibumu bilang kamu menunggu dengan sabar.”

Mata Unta Kecil membesar:

“Benarkah? Untukku?”

“Tentu,” kata Pak Karim sambil tersenyum:

“Kesabaran itu selalu ada hadiahnya.”

Unta Kecil menggigit satu kurma. Rasa manisnya begitu lembut, seolah meleleh di lidahnya. Ia belum pernah makan kurma seenak itu:

“Wah… ini jauh lebih enak daripada yang kubayangkan!” serunya.

Ibu mengangguk:

“Itulah keindahan menunggu, Nak. Saat kita bersabar, kita tidak hanya mendapatkan apa yang kita mau, tapi juga merasakan kebahagiaan yang lebih besar.”

Unta Kecil memandang sisa kurma di tangannya, lalu tersenyum lebar:

“Kalau begitu, aku mau berlatih sabar lagi, supaya bisa merasakan hal-hal yang indah seperti ini.”

Pak Karim menepuk pundaknya:

“Itu semangat yang bagus. Ingat, sabar bukan hanya menunggu, tapi juga menjaga hati tetap tenang saat menunggu.”

Hari itu, Unta Kecil pulang dengan langkah ringan dan hati penuh rasa syukur. Ia tahu, pelajaran dari oase kemarin kini benar-benar ia rasakan sendiri sabar memang membuat segalanya lebih manis, baik di hati maupun di mulut.

=================================================================

 

Garahan, 18 Agustus 2025 / Senin, 23 Safar 1447 H, 11.37 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post