Bab 11 Pasir Panas dan Angin Kencang (T.542)
Hari itu, gurun tampak berbeda. Matahari bersinar lebih terik dari biasanya, dan pasir yang biasanya hangat kini terasa seperti bara api di bawah kaki. Angin mulai bertiup kencang, membawa butiran pasir halus yang menusuk kulit.
Unta Kecil berjalan di samping Ibu, mengerutkan dahi:
“Bu, kakiku panas sekali… dan anginnya menyakitkan.”
Ibu menoleh, suaranya tenang:
“Aku tahu, Nak. Kita harus tetap berjalan sampai menemukan tempat berlindung. Angin seperti ini biasanya sebentar saja, tapi kita harus sabar.”
Unta Kecil mencoba melangkah lagi, tapi panas dari pasir membuatnya ingin berlari mencari tempat berteduh. Sayangnya, gurun di hadapan mereka kosong, tak ada pohon atau batu besar yang bisa dipakai berlindung.
“Bu, kenapa kita nggak berhenti saja? Aku capek…” keluhnya.
Ibu menggeleng pelan. “Kalau kita berhenti di sini, panasnya justru akan terasa lebih lama. Kita harus terus bergerak pelan-pelan. Sabar, Nak, sebentar lagi kita sampai.”

Angin semakin kencang. Pasir masuk ke mata dan telinga Unta Kecil. Ia mulai kesal. “Aku nggak mau sabar! Aku mau sampai sekarang juga!”
Ibu tetap melangkah, lalu berkata dengan nada lembut tapi tegas, “Kalau kita hanya marah-marah, panas dan angin ini tidak akan berhenti. Tapi kalau kita tenang, kita bisa memikirkan cara supaya perjalanan terasa lebih ringan.”
Mendengar itu, Unta Kecil mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata, lalu membayangkan oase yang sejuk, air yang segar, dan kurma manis yang ia makan kemarin. Bayangan itu membuatnya sedikit lebih tenang.
“Aku akan berpikir tentang kurma,” gumamnya pelan.
Ibu tersenyum tipis:
“Itu bagus. Kadang kesabaran datang dari mengalihkan pikiran ke hal yang menyenangkan.”
Beberapa langkah kemudian, mereka melihat bayangan samar di kejauhan. Ternyata itu adalah sebuah batu besar yang menjulang, cukup besar untuk menahan angin. Dengan sisa tenaga, Unta Kecil berlari kecil ke sana.
Begitu sampai, mereka berdua duduk di balik batu. Angin masih berhembus, tapi tak lagi menyakitkan. Unta Kecil menjulurkan lidah, kelelahan.
Ibu menepuk punggungnya:
“Lihat? Kita sampai juga. Semua ini karena kamu mau menahan rasa tidak nyaman dan terus berjalan.”
Unta Kecil menatap gurun di hadapannya:
“Jadi… sabar itu bukan berarti kita tidak merasa lelah atau kesal, tapi tetap melangkah walaupun tidak nyaman?”
Ibu mengangguk:
“Tepat sekali, Nak.”
Unta Kecil tersenyum kecil. Meskipun tubuhnya masih panas, hatinya terasa lebih dingin. Ia mulai mengerti bahwa kesabaran adalah teman terbaik ketika perjalanan terasa sulit.
=================================================================
Garahan, 19 Agustus 2025 / Selasa, 24 Safar 1447 H, 07.13 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
