Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 12 Teman Baru di Tengah Gurun (T.543)

Bab 12 Teman Baru di Tengah Gurun (T.543)

Setelah beristirahat di balik batu besar, angin mulai mereda. Ibu mengajak Unta Kecil kembali melanjutkan perjalanan. Langkah mereka lebih ringan karena suhu perlahan turun. Gurun terasa lebih tenang, seakan baru saja selesai marah.

Di kejauhan, Unta Kecil melihat sesuatu bergerak pelan di atas pasir. Awalnya ia mengira itu adalah ranting yang terbawa angin, tapi saat mendekat, ia sadar itu adalah seekor kura-kura gurun.

“Wah, siapa itu?” tanya Unta Kecil penasaran.

Ibu tersenyum. “Itu kura-kura gurun. Mereka terkenal sangat sabar, karena berjalan sangat lambat tapi tetap sampai tujuan.”

Unta Kecil langsung mendekat:

“Hai, Kura-Kura! Kamu sendirian?”

Kura-kura mengangkat kepalanya pelan:

“Iya, aku sedang mencari genangan air yang tersisa setelah hujan kemarin. Perjalanan ini sudah kutempuh sejak pagi.”

Unta Kecil terkejut:

“Sejak pagi? Tapi… kamu belum sampai juga?”

Kura-kura mengangguk santai:

“Benar. Aku tidak terburu-buru. Kalau aku berjalan terlalu cepat, kakiku bisa terluka. Aku percaya, kalau aku terus bergerak, aku akan sampai pada waktunya.”

Unta Kecil mengerutkan dahi:

“Tapi bukankah itu membosankan? Jalannya lama sekali.”

Kura-kura tertawa kecil:

“Justru itu yang membuatku bisa melihat banyak hal di sepanjang perjalanan. Aku bisa memperhatikan bentuk pasir, jejak kaki hewan lain, bahkan angin yang berhembus. Kalau terlalu cepat, aku akan melewatkan semua itu.”

Ibu menatap Unta Kecil:

“Nah, Nak, dengar itu? Sabar bukan hanya soal menunggu hasil, tapi juga menikmati perjalanan menuju hasil itu.”

Unta Kecil terdiam. Ia teringat saat menunggu giliran minum di oase. Waktu itu, ia hanya memikirkan air, tidak melihat burung-burung yang terbang rendah atau bayangan pohon yang bergoyang.

“Aku rasa… aku mau mencoba cara Kura-Kura,” katanya sambil tersenyum.

Kura-kura mengangguk;

“Bagus. Kalau kamu mau, kita bisa berjalan bersama sebentar. Siapa tahu, kamu menemukan sesuatu yang indah di jalan.”

Akhirnya, Unta Kecil berjalan lambat bersama Kura-Kura. Ia memperhatikan bentuk jejak kaki yang berbeda di pasir: ada milik kadal, burung, bahkan seekor rubah gurun yang lewat tadi pagi. Ia juga melihat kilauan kecil di pasir yang ternyata adalah potongan batu kristal.

Ketika mereka berpisah, Kura-Kura berpesan:

“Ingat, perjalanan yang dinikmati akan terasa lebih singkat, meskipun langkahnya lambat.”

Unta Kecil melanjutkan perjalanan bersama Ibu dengan hati yang lebih tenang. Kini, ia tidak lagi memikirkan kapan mereka sampai, tapi lebih pada apa yang bisa ia temui di sepanjang jalan.

===================================================================

Garahan, 20 Agustus 2025 / Rabu, 25 Safar 1447 H, 07.33 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post