Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 15 Pelangi Setelah Hujan (T.546a)

Bab 15 Pelangi Setelah Hujan (T.546a)

Hujan di gurun telah reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan. Genangan kecil berkilau diterpa cahaya matahari yang mulai mengintip dari balik awan. Unta Kecil masih asyik bermain-main, memercikkan air dengan kaki depannya.

“Bu, enaknya kalau hujan turun lebih lama, ya. Airnya pasti banyak,” katanya sambil menatap genangan.

Ibu tersenyum:

“Di gurun, hujan sebentar saja sudah menjadi berkah besar. Kita harus belajar menghargai yang sedikit, karena itulah yang membuat kita bertahan.”

Unta Kecil mengangguk pelan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan tiba-tiba matanya membelalak:

“Bu… itu… apa itu?”

Di ujung langit, terbentang lengkungan warna-warni yang indah. Merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu terlihat jelas.

“Itu pelangi, Nak,” jawab Ibu sambil tersenyum hangat:

“Pelangi biasanya muncul setelah hujan, ketika sinar matahari bertemu dengan sisa-sisa tetesan air di udara.”

Unta Kecil terpesona:

“Indah sekali… Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.”

Ibu menatapnya penuh arti:

“Pelangi adalah hadiah dari langit. Tapi kamu tahu? Kalau tadi hujan turun lebih lama atau terlalu deras, mungkin kita tidak akan melihatnya. Pelangi muncul pada waktu yang tepat. Sama seperti banyak hal dalam hidup, keindahan kadang datang setelah kita menunggu dengan sabar.”

Unta Kecil terdiam, memikirkan kata-kata Ibu. Ia teringat saat menunggu giliran minum di oase, belajar berjalan pelan bersama Kura-Kura, dan menunggu hujan yang akhirnya datang. Sekarang, ia mendapat hadiah yang tidak pernah dibayangkan: pelangi yang indah di tengah gurun.

Ia duduk di pasir, memandangi pelangi sampai perlahan memudar:

“Bu, ternyata menunggu itu seperti membuka hadiah. Kita tidak tahu isinya apa, tapi saat dibuka… bisa saja isinya sesuatu yang sangat indah.”

Ibu mengangguk bangga:

“Benar sekali, Nak. Dan pelajaran yang kamu dapat hari ini akan selalu menuntunmu, bahkan saat Ibu tidak berada di sampingmu.”

Angin gurun berhembus lembut, membawa aroma segar dari tanah basah. Matahari bersinar hangat, dan Unta Kecil merasa hatinya dipenuhi rasa syukur.

Pelangi mungkin hanya bertahan sebentar, tapi kenangan akan hari itu akan selalu ia simpan. Ia belajar bahwa kesabaran bukan hanya soal menunggu, tapi juga tentang mempercayai waktu dan menerima hadiah yang datang dengan cara yang tak terduga.

===================================================================

Garahan, 23 Agustus 2025 / Sabtu, 28 Safar 1447 H, 09.52 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post