Bab 16 Perjalanan Menuju Oasis Baru (T.547)
Matahari pagi mulai merayap di ufuk timur, mewarnai gurun dengan cahaya keemasan. Ibu membangunkan Unta Kecil dengan lembut:
“Ayo, Nak, hari ini kita akan menuju oasis baru. Perjalanan akan cukup panjang.”
Si Unta Kecil bangkit dan meregangkan badannya:
“Berapa lama kita akan sampai, Bu?” tanyanya sambil menguap.
Ibu tersenyum:
“Kalau kita berjalan terus, mungkin sampai sore. Tapi ingat, perjalanan bukan hanya tentang tiba di tujuan.”
Unta Kecil mengangguk. Ia teringat pelajaran-pelajaran sebelumnya: sabar saat menunggu giliran minum, berjalan pelan bersama Kura-Kura, menunggu hujan, dan menikmati pelangi. Hari ini, ia ingin mencoba mempraktikkan semua itu.
Mereka berjalan berdampingan. Angin gurun berhembus lembut di awal perjalanan, membawa udara sejuk yang menyenangkan. Unta Kecil mengamati bentuk-bentuk bukit pasir yang unik. Beberapa menjulang tinggi seperti istana, beberapa bergelombang seperti ombak laut.
Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat. Saat dulu, Unta Kecil akan gelisah dan bertanya:
“Kapan sampai?” Tapi kali ini ia menggunakan waktu istirahat untuk mengamati. Ia melihat jejak kaki yang mungkin milik kadal, serta burung kecil yang hinggap di ranting kering.

Di tengah perjalanan, matahari mulai terik. Unta Kecil merasakan langkahnya melambat. Rasa haus mulai datang. Ia menoleh ke Ibu, hampir saja bertanya “Kapan sampai?” namun ia mengingat pelajaran dari Kura-Kura: terus berjalan, tidak terburu-buru, dan nikmati setiap langkah.
Untuk mengalihkan pikiran dari rasa lelah, ia menghitung awan tipis yang melintas di langit, menebak bentuknya, dan mendengarkan bunyi angin. Anehnya, rasa hausnya jadi sedikit terlupakan.
Menjelang sore, mereka tiba di puncak sebuah bukit pasir. Dari sana, Unta Kecil melihat pemandangan yang membuatnya semangat: deretan pohon kurma hijau di kejauhan, dengan kilauan air di bawahnya:
“Bu! Oasis! Kita sudah hampir sampai!” serunya gembira.
Ibu mengangguk, bangga melihat semangat anaknya:
“Benar, Nak. Dan lihat, kamu berhasil melewati perjalanan panjang tanpa banyak mengeluh. Itu karena kamu sabar dan menikmati perjalanan.”
Begitu tiba di oasis, Unta Kecil langsung meminum air segar, lalu berbaring di bawah naungan pohon kurma. Ia merasa lelah, tapi juga puas. Hari ini ia membuktikan sendiri bahwa kesabaran membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Saat matahari terbenam, ia menatap air yang berkilauan:
“Bu, aku rasa kesabaran itu seperti air di oasis. Kalau kita tidak menjaganya, kita akan cepat kehabisan tenaga. Tapi kalau kita menyimpannya baik-baik, kita bisa sampai ke tujuan dengan hati yang tenang.”
Ibu tersenyum lebar:
“Kamu benar sekali, Nak.”
Malam itu, Unta Kecil tidur nyenyak, dengan hati penuh rasa syukur dan pikiran yang tenang, siap untuk petualangan berikutnya.
=================================================================
Garahan, 24 Agustus 2025 / Ahad, 29 Safar 1447 H, 13.14 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
