Bab 17 Angin Malam di Gurun (T.548)
Malam turun perlahan di oasis. Cahaya matahari yang tadi membakar gurun berubah menjadi sinar jingga, lalu hilang berganti langit biru tua bertabur bintang. Ibu Unta dan Unta Kecil beristirahat di bawah pohon kurma.
Awalnya, suasana terasa tenang. Hanya terdengar suara jangkrik dan aliran air kecil di dekat mereka. Namun, tak lama kemudian, angin mulai bertiup kencang. Daun kurma bergesekan, mengeluarkan suara seperti bisikan panjang.
“Bu… anginnya kok seram, ya?” Unta Kecil meringkuk mendekat.
Ibu mengusap kepalanya.
“Tidak apa-apa, Nak. Angin malam di gurun kadang memang kuat. Ia membawa berita dari jauh, dari bukit pasir ke bukit pasir.”
Tapi Unta Kecil tetap gelisah. Bayangan pohon bergoyang di bawah sinar bulan terlihat seperti makhluk besar yang bergerak. Ia menutup matanya rapat, berharap bisa cepat tertidur, namun suara angin malah terdengar semakin jelas.
“Bu, kapan anginnya berhenti?” tanya Unta Kecil lirih.
Ibu menatapnya penuh pengertian:
“Nak, tidak semua yang menakutkan harus kita lawan. Kadang kita hanya perlu diam, mendengar, dan membiarkannya berlalu. Angin tidak akan bertiup selamanya.”
Unta Kecil mencoba menarik napas dalam-dalam seperti yang diajarkan Ibu. Ia memfokuskan pikirannya pada suara air di oasis, dan pada bintang-bintang di langit yang tampak tenang meski angin berhembus.

Perlahan, rasa takutnya mulai berkurang. Ia mulai menyadari bahwa angin membawa udara segar yang mendinginkan gurun setelah siang yang panas. Daun-daun yang bergoyang ternyata menimbulkan bunyi seperti musik alami.
Ibu berkata lembut:
“Lihat, Nak. Kalau kita sabar, sesuatu yang tadinya menakutkan bisa berubah menjadi indah.”
Unta Kecil tersenyum kecil:
“Iya, Bu… Aku kira angin itu mau marah, tapi ternyata dia cuma ingin bernyanyi.”
Mereka berdua duduk bersama, mendengarkan “nyanyian” angin malam. Bintang-bintang di atas tampak semakin terang, seolah ikut menemani.
Akhirnya, angin pun mereda, berganti dengan keheningan yang damai. Unta Kecil merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia baru saja belajar bahwa kesabaran bisa mengalahkan rasa takut, sama seperti mengalahkan rasa haus atau lelah.
Sebelum tertidur, ia berkata:
“Bu, kalau suatu hari aku merasa takut lagi, aku akan ingat malam ini… bahwa semua akan berlalu kalau kita sabar.”
Ibu tersenyum, mencium keningnya:
“Itulah yang Ibu harap kamu ingat selamanya, Nak.”
Malam itu, di bawah langit gurun yang tenang, Unta Kecil tidur nyenyak, ditemani bintang dan mimpi yang indah.
=================================================================
Garahan, 25 Agustus 2025 / Senin, 30 Safar 1447, 08.07 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
