Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 18 Pertemuan dengan Karavan (T.549)

Bab 18 Pertemuan dengan Karavan (T.549)

Pagi hari di oasis terasa sejuk. Unta Kecil bangun lebih awal dari biasanya karena mendengar bunyi langkah banyak kaki dan suara lonceng kecil yang berdering. Ia menoleh ke arah gurun, dan matanya membesar.

“Bu! Lihat! Ada begitu banyak unta!” serunya.

Dari kejauhan, tampak rombongan karavan berjalan berbaris. Mereka membawa kantong-kantong besar di punggung, ada yang berisi air, ada yang berisi kain dan rempah. Manusia berpakaian panjang dan bersorban berjalan di samping mereka, memandu perjalanan.

Ibu tersenyum:

“Itu karavan dagang, Nak. Mereka datang untuk mengisi persediaan air dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.”

Karavan itu akhirnya tiba di oasis, dan suasana langsung ramai. Beberapa unta berbaris menunggu giliran minum, sementara yang lain beristirahat di bawah pohon. Unta Kecil sangat bersemangat ingin berbicara dengan mereka, terutama unta muda yang tampak sebaya dengannya.

Namun, ketika ia mencoba mendekat, ibunya menahan:

“Tunggu dulu, Nak. Mereka pasti lelah setelah perjalanan panjang. Biarkan mereka minum dan beristirahat sebentar.”

“Tapi Bu… aku ingin bermain sekarang,” kata Unta Kecil sedikit merengek.

Ibu menggeleng lembut:

“Ingat, kesabaran itu seperti memberi ruang bagi orang lain untuk bernapas. Kalau kita memaksa, mereka tidak akan nyaman.”

Unta Kecil menghela napas. Ia mundur dan duduk di tepi oasis. Dari sana, ia melihat unta-unta karavan meminum air dengan tenang, beberapa di antara mereka menutup mata karena begitu menikmatinya. Ia mulai membayangkan betapa hausnya mereka setelah menempuh gurun.

Untuk mengisi waktu, ia memutuskan mengamati karavan. Ia melihat manusia memeriksa persediaan, memindahkan karung, dan berbincang. Unta Kecil memperhatikan bahwa setiap hal dilakukan dengan tertib tidak ada yang terburu-buru, semua menunggu gilirannya.

Lama-kelamaan, rasa ingin bermainnya berubah menjadi rasa ingin tahu. Ia mulai menghitung jumlah unta di rombongan itu, mengamati warna bulu mereka yang berbeda-beda, dan memperhatikan peralatan yang mereka bawa.

Akhirnya, setelah semua unta karavan minum dan beristirahat, seekor unta muda menghampiri:

“Hai! Aku Rafi. Kamu tinggal di sini?”

Unta Kecil tersenyum lebar:

“Iya, aku tinggal di oasis ini bersama ibuku. Aku tadi ingin langsung mengajakmu bermain, tapi Ibu bilang aku harus menunggu.”

Rafi tertawa kecil:

“Bagus sekali ibumu mengajarkan itu. Kalau tadi kamu memanggilku sebelum minum, aku mungkin terlalu haus untuk bermain.”

Mereka pun bermain bersama di pasir dekat oasis, membuat jejak kaki dan saling mengejar. Ibu Unta tersenyum melihat anaknya mampu menahan diri dan akhirnya mendapat teman baru.

Sore hari, ketika karavan bersiap pergi, Rafi melambaikan kaki:

“Terima kasih sudah menungguku, teman.”

Unta Kecil menjawab:

“Sama-sama. Sampai bertemu lagi!”

Saat karavan menghilang di cakrawala, Ibu berkata:

“Hari ini kamu belajar bahwa kesabaran juga berarti menghormati kebutuhan orang lain.”

Unta Kecil mengangguk, merasa hatinya hangat.

=================================================================

Garahan, 26 Agustus 2025 / Selasa, 01 Rabiul Awal 1447 H, 07.28 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post