Bab 19 Hujan Pasir (T.550)
Hari itu, matahari bersinar terik. Ibu Unta dan Unta Kecil memutuskan berjalan sedikit menjauh dari oasis untuk mencari rumput hijau yang tumbuh di antara gundukan pasir.
Awalnya, langit terlihat cerah. Namun, di kejauhan, Unta Kecil melihat seperti kabut tebal berwarna kecokelatan bergerak mendekat.
“Bu, itu apa?” tanyanya.
Ibu menatap lekat arah tersebut, lalu berkata dengan suara tenang,
“Itu hujan pasir, Nak. Kita harus segera mencari tempat berlindung.”
Mereka mempercepat langkah, tetapi gumpalan pasir itu bergerak sangat cepat. Angin mulai bertiup kencang, membuat bulu halus di leher Unta Kecil berkibar. Debu mulai masuk ke hidungnya, membuat ia ingin bersin.
“Bu, aku takut!” seru Unta Kecil sambil memejamkan mata.
Ibu mendekat dan berkata:
“Tenang, Nak. Kita akan baik-baik saja. Ikuti langkah Ibu, dan jangan panik.”
Tak lama, hujan pasir pun tiba. Butiran pasir beterbangan, menutup pandangan hampir sepenuhnya. Rasanya seperti ribuan jarum halus yang menyentuh kulit. Ibu Unta memandu anaknya ke belakang batu besar yang bisa menahan sebagian tiupan angin.
“Sekarang kita tunggu di sini sampai reda,” kata Ibu sambil memposisikan tubuhnya di depan Unta Kecil, melindunginya dari arah angin.
“Tapi Bu… kapan berhentinya? Aku nggak suka menunggu,” keluh Unta Kecil.
Ibu tersenyum kecil meski matanya sedikit terpejam karena pasir:
“Nak, di gurun ini, banyak hal yang tidak bisa kita percepat. Hujan pasir akan berhenti ketika ia mau berhenti. Kalau kita memaksa keluar sekarang, justru akan lebih berbahaya.”
Unta Kecil mencoba menenangkan diri. Ia memejamkan mata, fokus pada suara ibunya yang menenangkan. Angin berdesir keras, tapi di sela-selanya, ia mulai mendengar detak jantungnya sendiri.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Unta Kecil ingin sekali bergerak, tapi ia mengingat semua pelajaran ibunya tentang kesabaran. Ia mulai menghitung napas, satu… dua… tiga… sampai rasa gelisahnya sedikit demi sedikit menghilang.

Akhirnya, tiupan angin mulai melemah. Suara gesekan pasir mereda, dan cahaya matahari perlahan menembus kembali. Hujan pasir pun berhenti.
“Lihat, Nak,” kata Ibu sambil tersenyum:
“Kita selamat karena kita menunggu dengan sabar. Kalau tadi kita memaksa berjalan di tengah hujan pasir, kita bisa tersesat atau terluka.”
Unta Kecil menatap sekeliling. Gurun yang tadi menghilang di balik pasir kini kembali terlihat. Meski letih, ia merasa bangga telah berhasil menahan rasa tidak sabarnya.
“Bu, ternyata menunggu itu nggak enak… tapi aku jadi aman. Mungkin itu gunanya sabar, ya?”
Ibu mengangguk:
“Betul sekali. Sabar itu seperti perisai yang melindungi kita di saat sulit.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan, meninggalkan batu besar yang tadi menjadi tempat perlindungan mereka, sambil membawa pelajaran baru di hati Unta Kecil.
===================================================================
Garahan, 27 Agustus 2025 / Rabu, 03 Rabiul Awal 1447 H, 07.22 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
