Bab 20 Bintang Penunjuk Jalan (T.551)
Malam itu, gurun terasa sejuk setelah panas terik seharian. Ibu Unta mengajak Unta Kecil berjalan menuju oasis kecil di sisi lain gurun. Perjalanan dilakukan malam hari agar tidak terkena panas matahari.
Namun, begitu meninggalkan oasis, Unta Kecil menyadari satu hal: gurun di malam hari terasa sangat berbeda. Tidak ada pepohonan yang jelas terlihat, hanya bayangan samar gundukan pasir.
“Bu… kita nggak nyasar, kan?” tanya Unta Kecil dengan suara agak bergetar.
Ibu tersenyum.
“Tidak, Nak. Lihat ke atas. Apa yang kamu lihat?”
Unta Kecil menengadah. Langit penuh dengan bintang berkilau, seperti pasir perak yang ditaburkan di atas kain hitam.
“Bintangnya banyak sekali! Tapi… bagaimana bintang bisa menunjukkan jalan?”
Ibu menunjuk satu bintang yang lebih terang dari yang lain.
“Itu Bintang Utara. Jika kita mengikutinya, kita akan tahu arah yang benar.”
Awalnya Unta Kecil merasa semangat.
“Wah, mudah sekali! Tinggal lihat bintang itu, kan?” katanya sambil berjalan.
Namun, setelah setengah jam berjalan, kakinya mulai pegal.
“Bu, kok lama sekali? Kenapa kita nggak sampai-sampai?” keluhnya.
Ibu menjawab sabar:
“Nak, di gurun, perjalanan memang tidak instan. Kita harus melangkah sedikit demi sedikit. Bintang itu tidak akan bergerak cepat, tapi jika kita terus maju, kita akan sampai.”
Unta Kecil mencoba menahan keluhannya. Ia mulai memperhatikan suara langkah kakinya di pasir, merasakan angin malam yang lembut, dan sesekali memandang bintang di langit.

Tiba-tiba, seekor serangga bercahaya melintas di hadapannya.
“Bu, lihat! Ada cahaya bergerak!” serunya.
Ibu tersenyum:
“Itu kunang-kunang. Cantik, ya? Tapi ingat, cahaya yang kita ikuti adalah yang tetap Bintang Utara. Kalau kita mengikuti cahaya yang bergerak, kita bisa tersesat.”
Ucapan itu membuat Unta Kecil berpikir. Kadang, sesuatu yang berkilau bisa membuatnya tergoda untuk mengubah arah, tapi belum tentu membawa ke tujuan yang benar.
Perjalanan berlanjut. Kaki Unta Kecil makin berat, tetapi ia mengalihkan pikirannya dengan menghitung bintang yang ia lihat. Satu… dua… tiga… sampai lupa pada rasa lelahnya.
Setelah beberapa jam, garis hitam pepohonan mulai terlihat di kejauhan. “Itu oasisnya, Nak. Kita sudah hampir sampai,” kata Ibu.
Begitu tiba, Unta Kecil langsung minum air segar dengan puas.
“Bu, ternyata mengikuti bintang itu seperti belajar sabar, ya? Kita harus terus berjalan walaupun jalannya lama, dan nggak boleh tergoda sama cahaya lain.”
Ibu mengangguk.
“Betul. Kadang, tujuan yang baik butuh waktu lama untuk dicapai. Yang penting kita terus melangkah.”
Malam itu, sebelum tidur, Unta Kecil kembali memandangi langit. Ia tersenyum, merasa bintang-bintang kini punya arti yang lebih dalam untuknya.
=================================================================
Garahan, 28 Agustus 2025 / Kamis, 04 Rabiul Awal 1447 H, 08.07 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
