Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 21 Janji pada Ibu (T.552)

Bab 21 Janji pada Ibu (T.552)

Pagi itu, udara gurun terasa sejuk. Unta Kecil bangun lebih awal dari biasanya. Ia melihat Ibu sedang minum di tepi oasis sambil menikmati pantulan matahari yang baru terbit di permukaan air.

Unta Kecil menghampiri dengan langkah kecil.

“Bu…” panggilnya pelan.

Ibu menoleh dan tersenyum:

“Pagi, Nak. Kok bangun pagi sekali?”

“Aku… aku mau bicara,” kata Unta Kecil sambil duduk di samping Ibu. Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan:

“Aku udah belajar banyak dari Ibu. Tentang sabar waktu haus, sabar waktu antre minum, sabar nunggu hujan pasir reda, bahkan sabar ikut bintang di malam hari.”

Ibu mengangguk lembut:

“Ya, Ibu lihat kamu sudah banyak berubah. Sekarang kamu lebih tenang.”

Unta Kecil menarik napas panjang:

“Bu, aku mau janji. Mulai sekarang, aku akan berusaha sabar di mana pun. Walaupun aku masih suka kesal kalau harus menunggu, aku akan ingat kata-kata Ibu: sabar itu membuat hati tenang dan semuanya terasa lebih indah.”

Ibu tersenyum, matanya berbinar:

“Itu janji yang bagus, Nak. Tapi ingat, sabar itu bukan berarti kamu nggak boleh merasa marah atau kecewa. Sabar artinya kamu tahu bagaimana mengatur perasaan itu supaya nggak membuatmu melakukan hal yang salah.”

Unta Kecil mengangguk mantap:

“Aku tahu, Bu. Aku akan belajar terus.”

Untuk menguji dirinya, Unta Kecil memutuskan hari itu ia akan membantu ibu tanpa terburu-buru. Saat mereka berjalan mencari rumput, ia tidak mengeluh meskipun matahari mulai hangat. Saat menunggu giliran minum, ia memilih duduk dan mengamati kupu-kupu yang beterbangan.

Di sore hari, Ibu sengaja berhenti lama di tengah perjalanan:

“Kita istirahat sebentar,” kata Ibu.

Biasanya, Unta Kecil akan bertanya:

“Kenapa lama sekali?” Tapi kali ini ia diam, malah mengamati bentuk awan di langit. Ia tersenyum saat melihat awan yang mirip kepala unta.

Ibu memperhatikannya dan berkata:

“Wah, janji kamu sepertinya bukan cuma kata-kata. Ibu bangga sekali.”

Unta Kecil tersipu. “Aku juga bangga, Bu. Rasanya hatiku lebih ringan kalau nggak buru-buru marah.”

Malamnya, sebelum tidur, Unta Kecil kembali mengulang janjinya dalam hati. Ia tahu pasti akan ada saat-saat sulit yang membuatnya ingin menyerah, tapi ia percaya bahwa kesabaran akan selalu membantunya melewati semua itu.

Di bawah langit gurun yang penuh bintang, Unta Kecil memeluk ibunya:

“Bu, makasih sudah sabar ngajarin aku tentang sabar.”

Ibu tertawa kecil:

“Sama-sama, Nak. Dan ingat, belajar sabar itu perjalanan seumur hidup. Tapi Ibu tahu, kamu akan menjadi unta yang kuat dan bijak.”

Unta Kecil menutup mata, merasa hangat dan tenang. Malam itu, ia tidur dengan mimpi indah tentang perjalanan panjang bersama Ibu, di mana sabar selalu menjadi teman setia mereka.

===================================================================

Garahan, 29 Agustus 2025 / Jumat Pon, 05 Rabiul Awal 1447 H, 00.05 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post