Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 22 Ujian Terakhir (T.553)

Bab 22 Ujian Terakhir (T.553)

Beberapa hari setelah Unta Kecil mengucapkan janji pada Ibu, rombongan unta mereka bersiap melakukan perjalanan jauh melintasi gurun menuju oasis besar. Semua anggota rombongan membawa persediaan air secukupnya untuk perjalanan yang diperkirakan memakan waktu tiga hari.

Awalnya, perjalanan berjalan lancar. Unta Kecil menikmati pemandangan gurun yang luas sambil sesekali bercanda dengan anak-anak unta lainnya. Namun, di hari kedua, langit tiba-tiba berubah. Angin gurun bertiup kencang, membawa debu yang menutupi jalur perjalanan.

“Badai pasir!” seru salah satu unta dewasa.

Rombongan segera berhenti dan berlindung di balik gundukan pasir besar. Semua diminta duduk tenang dan menutup mata mereka dari debu. Unta Kecil merasa gelisah. Angin kencang membuatnya susah bernapas, dan pasir masuk ke sela-sela bulunya.

“Bu, kapan badai ini berhenti? Aku nggak kuat lagi,” keluhnya sambil memejamkan mata.

Ibu menepuk punggungnya pelan:

“Sabar, Nak. Badai pasir tidak selamanya. Kalau kita bergerak sekarang, kita bisa tersesat. Kita tunggu sampai angin mereda.”

Waktu berjalan lambat. Sepuluh menit terasa seperti satu jam. Unta Kecil hampir bangkit berdiri, ingin melangkah meski dilarang. Tapi ia ingat janjinya pada Ibu. Aku harus sabar. Aku harus sabar, ulangnya dalam hati.

Untuk mengalihkan pikirannya, Unta Kecil mulai menghitung detik di kepalanya. Ia membayangkan kembali bintang-bintang di malam hari, oasis dengan air jernih, dan tawa Ibu saat mereka minum bersama. Bayangan-bayangan itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, angin mulai berkurang. Langit kembali cerah, dan pasir yang beterbangan mulai jatuh. Para unta dewasa memutuskan melanjutkan perjalanan.

Namun ujian belum selesai. Saat mereka hampir sampai di oasis, jalanan terhalang kawanan kambing gurun yang sedang minum. Unta Kecil lagi-lagi harus menunggu. Dahaganya memuncak, bibirnya kering, dan air di bawaannya hampir habis.

Ia menatap air di depan mata, hanya beberapa langkah lagi. Kenapa harus nunggu lagi? pikirnya. Tapi ia menarik napas panjang dan mengingat kata-kata Ibu: Sabar itu membuat hati tenang.

Akhirnya, giliran mereka pun tiba. Unta Kecil minum dengan perlahan, menikmati setiap tegukan air yang segar. Rasanya lebih nikmat dari biasanya, seakan kesabarannya menjadi bumbu yang membuat air itu begitu lezat.

Ibu tersenyum melihatnya:

“Nak, kamu baru saja melewati ujian terakhirmu. Kamu sudah sabar saat badai, dan sabar saat haus. Ibu bangga sekali.”

Unta Kecil tersenyum lebar:

“Ternyata sabar itu memang nggak mudah, Bu… tapi rasanya menang besar kalau kita berhasil melakukannya.”

Malam itu, di oasis besar, Unta Kecil tidur nyenyak. Ia merasa dirinya telah tumbuh lebih kuat, bukan hanya di kaki dan punggungnya, tapi juga di hatinya.

===================================================================

Garahan, 30 Agustus 2025 / Sabtu, 06 Rabiul Awal 1447 H, 09.14 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post